Jagongan Rakyat 4 | Sebab Mereka Tak Pernah Menderita

Jagongan Rakyat 4 | Sebab Mereka Tak Pernah Menderita


Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono

lingkarkiri.or.idSebab Mereka Tak Pernah Menderita | Kemben lama-lama muak juga dengan makhluk yang bernama negara. Bukan ia muak karena bentuknya, kedaulatannya, sumber daya alamnya, muatan-muatan budaya sosialnya—bukan itu. Muaknya terlebih dititikberatkan pada yang mengatur negara tersebut.

“Bisa-bisanya, selevel pejabat kok ada yang mengatakan kita ini, orang dusun, itu  malas kerja. Apa dasar yang dipakai untuk mengatakan itu?” Ucap Kemben bersungut-sungut.

“Haha, kok kamu kaget-kaget amat dengan ucapan itu?” Sahut Sartolo.

“Lah, ya tengok saja. Kita ini tiap hari kerja banting tulang. Hujan kepanasan, tangan melepuh, tangan di kaki, kaki di kepala. Kok ya sempat-sempatnya kita diremehkan seperti itu.”

Sartolo hanya mincep saja. Ia tahu betul stabilitas emosi Kemben kala itu amat kacau. Sehingga tak mungkin juga ditanggapi dengan saksama, yang ada nanti malah makin emosi dia. Sayang juga, jika ia jauh di dusun, terpencil, tapi yang dipikirkan adalah masalah yang maha akbar. Saking akbarnya sampai sekumpulan “pahlawan” yang katanya mampu merubah kondisi makin baik pun, nyatanya amburadul juga. Dan bahkan bisa-bisa menuju kehancurannya sendiri.

Tapi bagi Sartolo, ada satu hal yang perlu disadari oleh Kemben. Bahwa mereka yang memangku jabatan itu nyaris tak pernah sama sekali bersentuhan dengan kemelaratan rakyat, akar rumput. Lahir brosot sudah menginjak marmer istana, sudah disambut dengan catwalk, sudah dimanjakan dengan fasilitas yang mewah. Hendak mengatakan bagian mana hidup mereka pernah susah? Ini kondisi yang sangat berbeda ketika orang dusun yang lahir. Harmoni kehangatan hidupnya hanya dirayakan kecil-kecilan, tak ada syukuran mewah. Pemandangan awal dunianya sebatas hamparan sawah kering kerontang, kandang-kandang ternak, kali yang kadang tak jernih sebab penuh sampah. Tak ada apa-apanya dengan mereka yang sejak kecil sudah melihat modernisme metropolitan.

“Ya begitulah, Mben…”

“Kok begitu gimana sih, Tol?”

“Ya memang begitu keadaannya. Kamu jangan mengharapkan bahwa pejabat-pejabat kita bisa berempati atas kemelaratan kaum akar rumput ini. Sebab sejak kecil, dan sampai saat ini, muatan kepayahan hidupnya tidak semengerikan orang-orang dusun. Masih mending mereka nangis gak bisa beli mainan tapi di kamar hotel bintang 5. Lah kita? Nangis karena gak bisa makan. Mereka sedih, yang digesek itu ATM. Kita? Menggesek air mata.”

Kemben seketika sadar. Bahwa memang selama ini begitulah yang berlaku. Rakyat selalu mengharap perubahan dari sekian banyak ketimpangan sosial yang berlaku. Padahal fakta mengatakan, yang dielu-elukan mengentas kemiskinan tidak pernah miskin. Yang diharapkan mampu mengenyangkan perut rakyatnya, mereka tak pernah lapar. Yang diharapkan mampu membawa persebaran pendidikan dengan baik dan egaliter, mereka tak pernah nunggak SPP. Jadi, apa yang mau diharapkan? Muncul empatinya? Empati itu hanya bisa muncul kalau seorang insan pernah merasakan kepedihan yang sama.

Mudahnya begini, jika seseorang mampu dan menasehati orang yang putus cinta dengan perkataan, “sudah ah, jangan terlalu sedih. Biasa saja.” Mungkin ya. Mungkin saja mereka tidak pernah putus cinta sebelumnya, atau tidak pernah pacaran. Sehingga mulutnya asal njeplak. Persis ketika para pejabat sok membahas tentang penderitaan rakyat. Memang tirakat apa, susah apa yang pernah mereka alami untuk mendaku diri sebagai orang yang menderita? Bukannya terbalik?

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin