Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono
lingkarkiri.or.id | Sebab Mereka Tak Pernah Menderita | Kemben lama-lama muak juga dengan makhluk yang bernama negara. Bukan ia muak karena bentuknya, kedaulatannya, sumber daya alamnya, muatan-muatan budaya sosialnya—bukan itu. Muaknya terlebih dititikberatkan pada yang mengatur negara tersebut.
“Bisa-bisanya, selevel pejabat kok
ada yang mengatakan kita ini, orang dusun, itu
malas kerja. Apa dasar yang dipakai untuk mengatakan itu?” Ucap Kemben
bersungut-sungut.
“Haha, kok kamu kaget-kaget amat
dengan ucapan itu?” Sahut Sartolo.
“Lah, ya tengok saja. Kita ini tiap
hari kerja banting tulang. Hujan kepanasan, tangan melepuh, tangan di kaki,
kaki di kepala. Kok ya sempat-sempatnya kita diremehkan seperti itu.”
Sartolo hanya mincep saja.
Ia tahu betul stabilitas emosi Kemben kala itu amat kacau. Sehingga tak mungkin
juga ditanggapi dengan saksama, yang ada nanti malah makin emosi dia. Sayang
juga, jika ia jauh di dusun, terpencil, tapi yang dipikirkan adalah masalah
yang maha akbar. Saking akbarnya sampai sekumpulan “pahlawan” yang katanya
mampu merubah kondisi makin baik pun, nyatanya amburadul juga. Dan bahkan
bisa-bisa menuju kehancurannya sendiri.
Tapi bagi Sartolo, ada satu hal
yang perlu disadari oleh Kemben. Bahwa mereka yang memangku jabatan itu nyaris
tak pernah sama sekali bersentuhan dengan kemelaratan rakyat, akar rumput.
Lahir brosot sudah menginjak marmer istana, sudah disambut dengan catwalk,
sudah dimanjakan dengan fasilitas yang mewah. Hendak mengatakan bagian mana
hidup mereka pernah susah? Ini kondisi yang sangat berbeda ketika orang dusun
yang lahir. Harmoni kehangatan hidupnya hanya dirayakan kecil-kecilan, tak ada
syukuran mewah. Pemandangan awal dunianya sebatas hamparan sawah kering
kerontang, kandang-kandang ternak, kali yang kadang tak jernih sebab penuh
sampah. Tak ada apa-apanya dengan mereka yang sejak kecil sudah melihat
modernisme metropolitan.
“Ya begitulah, Mben…”
“Kok begitu gimana sih, Tol?”
“Ya memang begitu keadaannya. Kamu
jangan mengharapkan bahwa pejabat-pejabat kita bisa berempati atas kemelaratan
kaum akar rumput ini. Sebab sejak kecil, dan sampai saat ini, muatan kepayahan
hidupnya tidak semengerikan orang-orang dusun. Masih mending mereka nangis gak
bisa beli mainan tapi di kamar hotel bintang 5. Lah kita? Nangis karena gak
bisa makan. Mereka sedih, yang digesek itu ATM. Kita? Menggesek air mata.”
Kemben seketika sadar. Bahwa memang
selama ini begitulah yang berlaku. Rakyat selalu mengharap perubahan dari
sekian banyak ketimpangan sosial yang berlaku. Padahal fakta mengatakan, yang
dielu-elukan mengentas kemiskinan tidak pernah miskin. Yang diharapkan mampu
mengenyangkan perut rakyatnya, mereka tak pernah lapar. Yang diharapkan mampu
membawa persebaran pendidikan dengan baik dan egaliter, mereka tak pernah
nunggak SPP. Jadi, apa yang mau diharapkan? Muncul empatinya? Empati itu hanya
bisa muncul kalau seorang insan pernah merasakan kepedihan yang sama.
