Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 10 | Seandainya Mereka Bertuhan | Topik-topik yang dibicarakan kalangan orang-orang ini makin liar saja rupanya. Riuh rendah diskusi, ocehan, dan segala rupa celetukan memberi isyarat, bahwa kepala mereka sungguh ramai oleh dinamika sosial yang mereka hadapi. Dan semua berujung keresahan.
Apakah ini kutukan? Apakah ini sabda Tuhan bahwa memang manusia dibebani dengan penderitaan dan ketersungkuran hidup yang amat berat? Apakah dunia isinya hanya masalah? Lalu apa fungsinya Tuhan di dunia? Pertanyaan demi pertanyaan retoris kerap muncul. Menjadikan mereka semakin betah saja berlama-lama dengan segelas kopi Mbok Sunarti.
Kali ini, Kecut melempar bola liarnya kepada empat orang kawannya.
“Sekarang begini, apa kamu kira para
penguasa itu memiliki Tuhan?”
Saling sahut dimulai.
“Punya, islam. Mereka salat.” Kemben
menjawab.
“Berpeci juga!” Dumbis menimpali.
“Mereka salam ketika pidato!”
Sartolo.
“Ya, mereka bersumpah atas nama
Tuhan!” Dumbis semangat.
Kecut langsung membalik argumentasi
kawannya itu, “memang iya? Kalau mereka punya Tuhan, harusnya tidak merusak
bumi dengan eksploitasi hutan. Harusnya tidak sekalap itu meraup keuntungan
pribadi. Harusnya tidak menganggap rakyat kecil sebagai jongos. Harusnya narasi
kesejahteraan itu bukan omong kosong. Sebab jika mereka bertuhan. Mereka pun
paham ada hari pengadilan.”
Selama ini, itulah yang nampak. Para
penguasa itu lebih takut jika omzet turun ketimbang tak mampu salat. Para
penguasa itu lebih takut ditinggal investor ketimbang hatinya sunyi oleh kehadiran
Tuhan. Para penguasa itu lebih takut jika uangnya ludes untuk sedekah sosial.
Nyaris seperti tidak bertuhan, sebab tindakannya seolah memiliki dunia. Bumi
dieksploitasi sedemikian rupa.
“Lalu di mana Tuhannya?” Kecut
membelalak!
“Mungkin kau benar, Cut.” Kata
Banim. “Kita sering tertipu oleh peci untuk menutupi kebobrokan isi kepala.
Kita tertipu oleh uluk salam yang menutupi busuknya janji. Kita
termanipulasi oleh KTP untuk menutupi bias identitas iblis sebenarnya. Kita
semua lupa dan digiring dengan pemandangan, jika sumpah atas nama Tuhan sudah
dilakukan, fakta akan menunjukkan bahwa mereka orang yang menjadi khalifah di
muka bumi. Tapi sayang, itu fatamorgana belaka.”
“Lalu apa maumu atas hal ini, Cut?”
Sartolo mempertanyakan.
Kecut bergeming. Ia memandang ke
atas langit. Menangkupkan kedua kelopak matanya. Dan hanya rengeng-rengeng saja.
“Seandainya ajaran Tuhan diejawentahkan dalam diri mereka. Niscaya tak akan ada
ketakutan pada diri sendiri, pun apa yang terjadi pada mereka. Sebab titik tekan
ketakutan sebenarnya hanya berada sisi Tuhan. Allah SWT. Mereka islam, salat,
berpeci, seperti kata kalian semua. Tapi agama bukan soal permainan kulit luar.
Ia bermain pada jantung, core dalam diri kita masing-masing. Aku dan
kalian tak tahu, mana yang paling agamis di antara kita. Sebab toh Allah
sudah menyatakan. Derajat pada sisi-Nya hanya soal ketaqwaan semata. Selain
itu, skip.”
Banim memungkas,
“sehingga dengan keadaan seperti ini, hanya Allah yang mampu menangani?”
Kecut mengangguk tegas. “Tapi bukan
artinya Allah kita suruh-suruh. Kita paksa agar mengikuti kemauan kita
masing-masing. Sebab ilahi punya logikanya sendiri.”
