Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Berjiwa Besar | Di dusun-dusun, etos kerja masyarakat sangatlah luar biasa. Emak-emak pagi buta sudah bangun, menanak nasi, menyiapkan sarapan keluarga, lepas itu mengurus anak dan pergi ke sawah. Sampai siang hari istirahat sebentar, sorenya mengurusi pekarangan dan unggas-unggas di belakang rumah. Sungguh iguh kehidupan yang tiada tanding.
Mereka berjibaku menghidupi diri sendiri dengan segala kepayahan. Mereka amat berdaulat pada diri sendiri. Tidak diperhatikan presiden, tidak pula kepala daerah. Tapi jiwanya tertaut pada Tuhan yang Esa. Ini nyaris berbeda sekali dengan mereka yang, untuk dapat uang saja harus mengemis suara, mendongkrak pajak, menggunakan fasilitas yang mestinya untuk hajat orang banyak, tapi berlaku untuk diri sendiri. Etos kerjanya lemah. Sebab hingga saat ini, tidak sedikit yang memasuki “ranah itu”. Tapi ya, untuk sekadar berdiri sendiri saja butuh dukungan.
Emak-emak di dusun itu, kedaulatannya hanya pada diri sendiri. Mereka berjibaku dengan kerasnya dunia yang entah makin tidak jelas arahnya. Itu juga yang membuat Kecut jadi terkagum-kagum dengan emak-emak di dusun.
Katanya, “sayang sekali.. hari ini kita memandang wanita karir secara berbeda.”
“Maksudmu gimana?” Dumbis bertanya.
“Yaa.. coba lihat definisi wanita karir modern. Mereka menganggap bahwa independensi yang bernapas modernisme, itulah yang disebut karir. Gaji tinggi, dandanan modis, kantoran, medsosnya penuh followers. Muatan emosionalnya, katanya sih, cuma profesionalitas. Mereka menganggap diri sebagai pribadi independent. Sehingga di luar itu, mereka anggap wanita-wanita lain itu gagal.” Jelas Kecut.
Dumbis menangkap apa maksud Kecut. Ia mengiyakan. Memang pada dasarnya ada makna yang direnggut atas terma “wanita karir”. Sebab jika yang disebut sebagai wanita karir adalah mereka yang punya previlese dunia perkantoran yang serba elitis. Maka tidak adil rasanya. Sebab, karir atau bukan karir, itu tidak ditentukan melalui hal demikian.
“Tapi mereka mengaku diri sebagai yang paling independen. Yang paling keren?”
Kecut mengangguk. “Ya, dan menyombongkan diri seolah jadi orang yang tidak bisa terbeli.”
“Sebab mereka tak pernah ngerti. Bahwa emak-emak yang pagi buta berangkat ke pasar untuk jualan, itu juga karir. Bahwa emak-emak yang menyusui anak sembari ikut memanen jagung di ladang, itu juga karir. Bahwa emak-emak yang menjadi buruh di rumah orang kaya dengan upah tak seberapa, itu juga karir. Culas jika ada orang berpikir karir hanya sebatas identitasnya. Karir itu soal ubet, kerja keras. Berani memanggul kemandirian dalam bentuk apapun. Jadi, esensi kerjanya yang dibidik. Bukan tentang identitas-identitas semu.” Tambah Dumbis.
“Begitulah maksudku. Jika para wanita semakin angkuh dengan hal demikian. Mereka perlu merevisi ulang perkataannya. Tentu dengan sikap kerendahatian. Tidak perlu menyudut-nyudutkan segala rupa. Jika memang yang menjadi persoalan tentang karir atau bukan karir adalah di aspek finansial. Maka itu sangat rendah sekali. Sebab toh, sesungguhnya mereka tidak bisa berpikir di luar batas konteks tersebut. Pikirannya sempit, jiwanya kerdil. Kalau begitu, masih kalah dengan emak-emak yang berjiwa besar.”
