Jagongan Rakyat 8 | Syarat Jadi Pemimpin

Jagongan Rakyat 8 | Syarat Jadi Pemimpin

 


 Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono


Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 8 | Syarat Jadi Pemimpin | Berkumpullah lima orang tersebut. Kali ini mereka membahas sesuatu yang cukup urgen. Ini tentang bagaimana seseorang menjadi pemimpin. Apakah harus cerdas? Apakah harus bijaksana? Harus setengah dewa? Harus retorikanya bagus? Atau apa? Kualifikasi terma pemimpin terlampau luas untuk dibedah.

“Menurutku, syarat utamanya harus bijaksana.” Banim memulai.

“Bagiku harus cerdas dan penuh siaat.” Kecut membalas.

“Kalau aku sih.. mereka yang bisa mengayomi.” Sahut Sartolo.

“Emm.. bagaimana kalau harus religius?” Celetuk Kemben.

“Ah.. aku bingung, sudah kalian sebut semuanya. Menurutku, pemimpin harus culas.” Dumbis tak mau kalah.

Sartolo melawan, “kok culas gimana? Pemimpin ya harus baik sikapnya. Kalau culas nanti malah ndak karuan yang dilakukan. Culas itu kan licik. Licik itu penuh tipu daya. Penuh tipu daya artinya manipulatif. Segala tindakannya mengarah pada ketidakjujuran sosial. Ending-nya bisa merusak sendi-sendi kehidupan bernegara. Jangan ah… jangan sampai pemimpin kita culas. Culas itu wani silit wedi rai! Pengecut!”

Yang lain hanya mengangguk. Tidak pada Dumbis. Ia hanya menyeringai tipis.

Ini topik yang cukup populer di sana. Tapi juga cukup riskan dan berat untuk dibahas. Berat bukan karena opini mereka akan mandek di rimba raya spekulatif. Tapi lebih kepada, sebenarnya apa yang mereka mau dari seorang pemimpin. Mengingat, berganti-ganti siapa pun pemimpinnya. Tetap saja daya kesejahteraan rakyat sama saja. Mereka tetap harus merangkak untuk menghidupi diri sendiri tanpa turut andil seorang (atau sekumpulan?) pemerintah. Sehingga wajar saja. Hari ini terma pemimpin menjadi serba kabur. Istilah yang sukar ditangkap, apa sebenarnya makna yang hakiki.

“Tapi kalau dilihat record-nya, Tol. Ajeg dan teguhnya seorang pemimpin di negeri kita, bukan hal-hal baik yang kalian sebutkan tadi. Lebih kepada bodoh, sembrono, oportunis, kapitalistik akut, bullshit. Dan rakyat sudah memilih itu. Pilihan sekian juta orang, artinya kan itu kriteria yang diinginkan. Rakyat memberi kriteria bahwa pemimpin ya demikian sikapnya. Masak iya berjuta-juta rakyat punya alur berpikir yang sama tentang sepakatnya dalam hal buruk. Kan tidak?” Dumbis memberi jeda. “Lalu, Tol. Kalau aku menjawab culas apa salah? Kita hari ini cuma dibuai oleh instrumen pemahaman yang distortif mengenai pemimpin. Apa? Satrio piningit? Ratu adil? Satrio pinilih? Jauh, Tol!”

Ngototnya Dumbis tadi membuat Sartolo agak naik darah. “Kok kamu ini lucu. Kita sudah punya kesepakatan universal tentang baik dan buruk. Kok kamu malah menyepakati norma buruk dianggap baik. Universal, Mbis. Universal itu, 1+1=2. Tidak mungkin hasilnya 4 atau malah 1726. Kamu ini jangan ngigau gini.”

Di tengah kemelut yang saling gontok itu. Kemben menenangkan.

“Eh, sudah kalian. Jangan sampai gontokan gini. Lihat toh. Kita ini mikir sedemikian rupa untuk siapa sih? Untuk apa sih? Apa dapatnya coba? Yang atas sana enak-enakan. Kita malah saling tengkar. Monggo, kopinya sudah mendingin.” Kemben mencucup kopi hitamnya. []

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin