Jagongan Rakyat 9 | Kamu Bicara Terlalu Muluk

Jagongan Rakyat 9 | Kamu Bicara Terlalu Muluk

Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono


Lingkarkiri.or.idJagongan Rakyat 9 | Kamu Bicara Terlalu Muluk | Tikar sedari tadi sudah digelar, Sartolo dan Kemben sudah asyik masyuk bercengkarama. Warung Mbok Sunarti sudah ibarat ruang intelektual mereka. Bahkan, di rumah pun rasanya tak betah. Inginnya lekas-lekas sepulang kerja, warung itu yang dituju. Tabiat lelaki memang. Isi kepalanya riuh-rendah oleh berbagai macam persoalan.

“Tol, apa kamu pernah menyadari satu hal bahwa yang kita bicarakan di warung ini hanyalah kesia-siaan belaka.” Kemben memulai obrolan.

“Mana ada yang sia-sia? Allah tidak menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini tanpa manfaat, Mben.”

“Walah… gitu aja bawa-bawa Tuhan, ehe. Maksudku, pembicaraan kita selama ini terlalu muluk dan akhirnya menguap juga. Tidak ada tindakan pasti. Meski kita ngrasani politik, meski kita bicara soal dinamika sosial, meski kita bicara soal industri, modernisme, life style. Kita masih stagnan di kampung kecil. Yang orang-orangnya, maaf, juga tak banyak suka berbicara kayak gini.”

“Oh.. itu masalahmu.” Sartolo membenahi posisi silanya. “Kalau itu masalahmu. Sebenarnya kamu salah membaca, Mben. Omongan, atau apapun yang keluar dari isi kepala kita, tidak mesti harus sejalan lurus dengan tindakan kita. Ada bagian-bagian yang memang kita tidak mampu menjalani dan mewujudkannya secara langsung. Walhasil, apa yang kita keluarkan dari dalam kepala, itu merupakan respon dari sikap di mana dan bagaimana kita berpijak.”

Kemben merasa penjelasan Sartolo terlalu membingungkan. Sehingga ia cuma ngowoh saja mendengarkan. Hanya menggeleng saja.

“Ah, gini mudahnya. Coba lihat, ketika kamu melihat ada seorang aparat yang memukul rakyat sipil. Kamu mau apa? Membalas? Mau menempeleng kembali si polisi? Atau justru kamu membantunya untuk memukuli rakyat sipil? Minimal kamu harus ngapain?”

“Aku ya.. jelas ndak terima. Karena membalas pun tak mungkin, mengubahnya jelas susah. Yang pasti, aku mengingkari perbuatan itu, Tol.” Jawab Kemben.

“Kamu benar. Itu maksudnya. Ini tentang keberpihakan. Jika ada bentuk kelalaian, kebobrokan di muka bumi. Baiklah, dengan beberapa catatan kita bisa mengubah itu. Namun untuk hal yang tidak bisa digapai. Posisi kita harus jelas, Mben. Kita mengingkari itu, kita mengutuk perbuatan itu. Jika kamu tahu cerita seekor semut yang meniup dan menyirami Nabi Ibrahim kala dibakar Namrud. Cecak datang mengejek, sebab apa yang dilakukan semut hanyalah kesia-siaan belaka.”

“Ya.. yaa.. kamu benar. Aku nangkap, Tol.”

“Itu dia. Jadi, bukan melulu yang dibicarakan ini terlalu jauh lantas menguap begitu saja. Ingat, Tol. Kita punya pertanggungjawaban di mana posisi kita besok akan dipertanyakan juga. Apakah menjadi golongan kiri, ashabul syimal. Atau golongan kanan? Ashabul yamiin?”

Kemben puas sekali dengan jawaban Sartolo kali ini. Memang, ada segenap kegelisahan sendiri ketika apa yang diobrolkan dalam sebuah perkumpulan dirasa terlalu muluk. Tapi poinnya bukan di muluk atau tidaknya. Tapi pada posisi di mana seseorang berpijak. Posisi mereka—Sartolo dan Kemben, juga sisa temannya—seringkali membicarakan, ikut ngrasani apa-apa yang menyimpang dari norma sosial. Maka, jelaslah mereka. Mereka adalah semut-semut yang berusaha meniup api-api yang disulut oleh Namrud-Namrud modern.

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin