Jagongan Rakyat 3 | Tidak Pernah Dewasa

Tidak Pernah Dewasa


Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono

Lingkarkiri.or.id | Tidak Pernah Dewasa | Sudah berulang kali, saban pemilu, selalu saja rakyat lagi-lagi di-kempongi oleh penguasa. Imaji yang diidamkan semasa kampanye, akhirnya juga cuma omong kosong belaka. Berapa kali pun ganti presiden, toh kemelaratan tetap saja terjadi. Toh ketimpangan sosial makin parah.

Tapi rasa-rasanya, rakyat kok biasa saja menghadapi itu. Ditipu berkali-kali pun, nanti ada pemilu lagi juga yang dipilih begitu lagi. Kempong lagi akhirnya. Melarat lagi yang ada. Apa benar kemiskinan rakyat kini sudah parah? Sehingga jika ada seseorang yang macak menjadi ksatria di tengah kemelut sosial yang amburadul, ia mudahterpilih padahal berbekal nyangoni 30-50 ribu?

Itu yang dipikirkan Sartolo. Ia begitu heran. Kok bisa-bisanya rakyat ini kecele berulang kali. Apa yang salah? Tidak cukupkah pengalaman mengajarkan dengan baik?

“Rakyat kita itu, ya Allah. Benar-benar selalu awam. Berulang kali pemilu, berulang kali pula salah yang dipilih. “ Ucapnya pada Dumbis.

Dumbis yang enak lenger-lenger tentu terganggu dengan pernyataan itu.

“Biang apa kamu ini? Rakyat kita itu pinter-pinter. Akses pendidikan makin mudah. Informasi berkembang cepat. “ Sahutnya.

“Iya, Mbis. Maksudnya, kok kita ndak pernah dewasa gitu loh? Orang dewasa itu kan, harusnya waskita dan wicaksana dalam bertindak. Apalagi dalam urusan sosial yang output-nya adalah kebijakaan publik. Tentu tidak bisa dipilih secara serampangan. Harus matang. Kualifikasinya jelas. Harus mampu mengukur apakah retorika seorang calon pemimpin ini layak dan sejalan lurus dengan tindakannya. Kalau aku mengamati, sampai hari ini kita cuma terbuai bujuk rayu dan bibir-bibir manis saja. Secara substansi, kita tidak bisa berpikir ke arah sana. Lah, wong harga diri kita cuma dinilai dengan kertas yang punya nilai; uang. Apa uang bisa menjadi jaminan kejernihan berpikir? Mengingat, dalam sejarahnya, tonggak problem paling urgent dalam hidup manusia adalah cek-cok urusan uang.”

I’tikad Dumbis untuk santai sejenak sudah kabur total. Mau tidak mau ia harus menanggapi itu dengan serius. Ia setuju juga dengan pendapat Sartolo. Ya, Dumbis juga akhirnya merasa di-kempongi. Sebagai lulusan S1, harusnya kurang lebih cukup tingkat pendidikannya untuk mendukung proyeksi karirnya. Tapi faktanya, yang menduduki kursi pemerintahan pun cuma lulusan SMA. Bukan berarti meremehkan. Tapi taraf pendidikan seseorang itu menunjukkan alam pikir, kematangan, kebijaksanaan. Sehingga jangan kaget, jika dalam sebuah negara proyeksi kualifikasi terhadap pendidikan tidak diperhatikan, ujungnya cuma ngibul saja. Bahaya jika kursi kepemerintahan dipegang oleh orang yang pendidikannya kurang mapan.

“Lalu, menurutmu rakyat kita kudu apa, Tol?” Tanya Dumbis.

“SADAR!”

“Loh, kok sadar piye toh?”

“Yang memabukkan itu tidak hanya bekonang, arak, tuak, cukrik—uang dan buaian janji-janji manis juga memabukkan. Intensitas rakyat kita sudah terlalu banyak dicekoki zat memabukkan semacam itu. Maka kita harus menyadarkan mereka.”

Dumbis menatap tajam ke arah Sartolo, “dengan apa?”

“Uang dan kata-kata manis!” Tukas Sartolo.

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin