Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Tidak Pernah Dewasa | Sudah berulang kali,
saban pemilu, selalu saja rakyat lagi-lagi di-kempongi oleh penguasa.
Imaji yang diidamkan semasa kampanye, akhirnya juga cuma omong kosong belaka.
Berapa kali pun ganti presiden, toh kemelaratan tetap saja terjadi. Toh
ketimpangan sosial makin parah.
Tapi
rasa-rasanya, rakyat kok biasa saja menghadapi itu. Ditipu berkali-kali pun,
nanti ada pemilu lagi juga yang dipilih begitu lagi. Kempong lagi
akhirnya. Melarat lagi yang ada. Apa benar kemiskinan rakyat kini sudah parah?
Sehingga jika ada seseorang yang macak menjadi ksatria di tengah kemelut
sosial yang amburadul, ia mudahterpilih padahal berbekal nyangoni 30-50
ribu?
Itu
yang dipikirkan Sartolo. Ia begitu heran. Kok bisa-bisanya rakyat ini kecele
berulang kali. Apa yang salah? Tidak cukupkah pengalaman mengajarkan dengan
baik?
“Rakyat
kita itu, ya Allah. Benar-benar selalu awam. Berulang kali pemilu,
berulang kali pula salah yang dipilih. “ Ucapnya pada Dumbis.
Dumbis
yang enak lenger-lenger tentu terganggu dengan pernyataan itu.
“Biang
apa kamu ini? Rakyat kita itu pinter-pinter. Akses pendidikan makin mudah.
Informasi berkembang cepat. “ Sahutnya.
“Iya,
Mbis. Maksudnya, kok kita ndak pernah dewasa gitu loh? Orang dewasa itu
kan, harusnya waskita dan wicaksana dalam bertindak. Apalagi
dalam urusan sosial yang output-nya adalah kebijakaan publik. Tentu
tidak bisa dipilih secara serampangan. Harus matang. Kualifikasinya jelas.
Harus mampu mengukur apakah retorika seorang calon pemimpin ini layak dan sejalan
lurus dengan tindakannya. Kalau aku mengamati, sampai hari ini kita cuma
terbuai bujuk rayu dan bibir-bibir manis saja. Secara substansi, kita tidak
bisa berpikir ke arah sana. Lah, wong harga diri kita cuma dinilai
dengan kertas yang punya nilai; uang. Apa uang bisa menjadi jaminan kejernihan
berpikir? Mengingat, dalam sejarahnya, tonggak problem paling urgent dalam
hidup manusia adalah cek-cok urusan uang.”
I’tikad
Dumbis untuk santai sejenak sudah kabur total. Mau tidak mau ia harus
menanggapi itu dengan serius. Ia setuju juga dengan pendapat Sartolo. Ya,
Dumbis juga akhirnya merasa di-kempongi. Sebagai lulusan S1, harusnya
kurang lebih cukup tingkat pendidikannya untuk mendukung proyeksi karirnya.
Tapi faktanya, yang menduduki kursi pemerintahan pun cuma lulusan SMA. Bukan
berarti meremehkan. Tapi taraf pendidikan seseorang itu menunjukkan alam pikir,
kematangan, kebijaksanaan. Sehingga jangan kaget, jika dalam sebuah negara
proyeksi kualifikasi terhadap pendidikan tidak diperhatikan, ujungnya cuma
ngibul saja. Bahaya jika kursi kepemerintahan dipegang oleh orang yang
pendidikannya kurang mapan.
“Lalu,
menurutmu rakyat kita kudu apa, Tol?” Tanya Dumbis.
“SADAR!”
“Loh,
kok sadar piye toh?”
“Yang memabukkan itu tidak hanya bekonang, arak, tuak,
cukrik—uang dan buaian janji-janji manis juga memabukkan. Intensitas rakyat
kita sudah terlalu banyak dicekoki zat memabukkan semacam itu. Maka kita harus
menyadarkan mereka.”
Dumbis
menatap tajam ke arah Sartolo, “dengan apa?”
“Uang dan kata-kata manis!” Tukas Sartolo.
