Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 12 | Karyawan Dengan Bos “Negara” | Kalau ada orang tanam jagung, lalu tanahnya diinjak-injak, si petani akan marah.
Kalau
ada orang dagang lalu dagangannya dilecehkan, dikatakan bahwa itu barang jelek,
penjual akan naik pitam.
Kalau
ada buruh pabrik lalu kau hinakan pekerjaannya, siap-siap saja dihantam
rahangmu sampai pecah.
Kalau
ada orang kelaparan dan mengemis, lalu kau ejek ia pemalas. Bersiaplah untuk
dikutuk jadi kodok!
Kalau
kau punya kedaulatan dengan nama negara, lalu negaramu hanya dinikmati
segelintir orang saja. Siap-siaplah si empunya akan marah besar!
***
“Negara itu punya rakyat, bukan
segelintir orang ya. Apalagi mengatasnamakan pemerintah. Sejak kapan mereka
memerintah? Kita—rakyat—yang berkuasa.” Dumbis dengan nada sedikit tinggi
menggelegak.
Banim di depannya langsung kicep.
Pasalnya, tadi ia sempat mengatakan bahwa republik ini, negara ini, itu bukan
milik rakyat. Tapi terma “negara” adalah kepemilikan swasta. Bukan masyarakat
kolektif, hanya segelintir. Diulanginya, “hanya segelintir, Mbis!”
Dumbis sangat tidak setuju dengan
pemikiran Banim. Fakta sejarah mengatakan bahwa pendahulunya, nenek moyangnya,
mempertahankan dan memperjuangkan negara ini mati-matian. Demi anak cucu. Demi
kemaslahatan bersama.
“Apa kamu tidak menengok sejarah,
Nim? Mbah-mbah kita semua ini rekoso untuk membela negara. Sekarang
lihat, perjuangan simbah kita semua ini jadi apa bentuknya kalau hanya
dinikmati dengan orang tertentu.” Dumbis melawan lagi.
Tak pernah warung Mbok Sunarti sepi.
Itu tersebab kehadiran mereka. Untungnya Mbok Sunarti perempuan yang lugu.
Tugasnya hanya meladeni apa pesanan pelanggan. Tak peduli apa dinamika yang ada
dalam tiap obrolan orang-orang itu. Yang ia tahu hanya menghidangkan kopi
panas.
“Aku juga bicara fakta loh, ya. Wujudnya
sekarang yang kita pilih 5 tahun sekali itu, mereka lah yang punya negara. Kita
cuma dikasih remah dan uang ‘sogok’ aja biar milih. Aku juga bicara fakta.
Kalau kamu melawan dengan sejarah, aku melawan dengan realita!” Ketus Banim.
Melihat perdebatan ini tak berujung.
Sartolo hanya melempar senyum kecut saja. Ia mafhum dengan ini semua. Obrolan
semacam itu jadi hal yang normal. Sebab begitulah kehidupan, sejatinya hanya
tentang bercerita, membagi, menyerang, dan membela narasi atas pemahaman masing-masing.
Tak bisa kau terlalu idealkan. Tak bisa kau sempurnakan. Karena memang itu
warnanya. Tapi dalam konteks ini, jika republik besar ini salah urus, imbasnya
besar. Ada sekian juta orang yang harus melarat, harus rela tertekan. Bukan
sebab diri mereka pure. Tapi, sebagaimana dikatakan oleh dua kawan
sebelumnya, tapi oleh bentuk kerakusan dan jiwa-jiwa yang miskin dengan rasa
syukur.
“Sekarang begini teman-teman. Memang
kalian betul berkata itu semua. Bahwa negara kita bukan lagi milik rakyat, tapi
milik pemerintah. Tapi atas pemaknaan apakah itu yang disebut negara, kita
kembalikan pada individu masing-masing. Jika kalian memaknai negara adalah bayi
yang perlu disapih, dirawat, diperhatikan dengan baik, maka nyaris tak akan
sudi kalian membuatnya menangis. Mengganggu tidurnya pun tidak. Tapi jika
kalian memandang bahwa negara ibarat bos kaya yang bodoh, yang senantiasa ditilap
uangnya, yang senantiasa dikeruk hartanya sekadar mengenyangkan perut
kalian. Ketahuilah, kalian itu seburuk-buruknya karyawan.” Tegas Sartolo
“Kok karyawan?” Dumbis dan Banim
menyahut bersamaan. Melongo.
