Oleh : Ahmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Konflik Pertama: Manusia, Kekejaman, dan Secangkir Katarsis di Warung Mbok Sunarti | Sartolo agak nggumun, kok makin ke sini konflik dan kekejaman manusia makin menjadi-jadi saja. Notif HP-nya saban kali memberitakan tentang kekejaman-kekejaman yang terus terjadi. Perang, genosida, massacre, penjagalan, human trafficking—semua bak jamur di musim hujan yang terus bermunculan. Seolah hari-hari hanya diisi dengan kebobrokan. Katanya dunia ini seimbang? Di saat ada yang buruk, ada juga kebaikan-kebaikan yang membersamai.
Tapi bagi Sartolo, ini tidak
mungkin. Ia pikir sampai saat ini dunia ini hanya berpihak pada yang
jahat-jahat. Coba lihat, mereka yang kejam-kejam selalu punya kedudukan yang proper.
Mereka yang kejam selalu punya taraf singgasana yang megah. Dan kesemuanya
itu amat berbalik, lihatlah orang-orang baik yang menjadi sapi perah, sering
tertindas, bullyable. Porsi hidupnya hanya dianggap kerak-kerak bandel
di masyarakat. Pendek kata, bagi Sartolo dunia ini hanya diisi oleh “yang
kejam-kejam saja.”
Begitu kiranya Sartolo mengungkapkan
kegusarannya itu pada Kemben. Dua orang ini pekerja serabutan. Tinggal di dusun
kecil, kalau ndak kerja, basecamp mereka ada di warung Mbok
Sunarti. Warung kecil yang jadi tongkrongan orang-orang dusun. Tempat yang
asyik untuk membicarakan dinamika sosial. Kadang bicara yang muluk-muluk,
kadang yang receh-receh, kadang menyenggol topik-topik sensitif, isu agama,
sosial, ekonomi, politik, kefilsafatan, seni, sains, nuklir, konspirasi dunia,
fisika, juga kadang porno—semua masuk tumplek blek di warung Mbok
Sunarti.
Tiga orang yang lainnya biasa
nimbrung adalah, Banim, Kecut, dan Dumbis. Banim dan Kecut buruh pabrik. Dumbis
yang agak moncer, pendidikannya sampai S1. Tapi sayang, kembali ke dusun hanya
menggarap sawah. Sering jadi gojlokan teman-temannya itu, “kok sekolah tinggi-tinggi
jadi petani.” Tapi Dumbis yang biasa ndombos hanya menyingkur, “yaaa..
nasib.” Itu seni pertahanan yang ciamik darinya demi menghindari perdebatan
panjang.
***
“Kamu tadi bilang apa? Manusia
kejam?” Sahut Kemben.
“Iya, buktinya. Konflik pertama dalam
sejarah adalah pembunuhan. Itu kan artinya manusia kejam.” Jawab Sartolo.
Tiga yang lain sudah mafhum, bahwa
yang dimaksud konflik itu mengacu pada cerita Qabil dan Habil. Cukuplah jadi
argumentasi yang kuat dari Sartolo untuk menyimpulkan bahwa memang manusia itu
kejam.
“Tidak hanya kejam kok, mereka juga
manipulatif, curang, sok kuasa, sok pintar—” belum juga Banim berhenti, tapi
sudah disahut lagi oleh Kecut.
“Goblok! Memang manusia goblok!”
Seru Kecut.
Dumbis yang sedari tadi menggosok
akik kecilnya, lalu akhirnya turut angkat bicara. “Ha kui makanya dulu
malaikat ndak mau kalau sampai manusia ada. Sebab begitulah tabiatnya.
Pada banyak kesempatan, ia bisa berlaku sangat-sangat kejam. Pada kesempatan
yang lain, mereka alim tapi juga lalim secara bersamaan. Sesuatu yang susah
digambarkan.”
Bagi Dumbis, manusia itu seperti
yang digambarkan oleh Jalaluddin Rumi, manusia ibarat lautan dalam setetes air.
Sukar ditebak, sukar diprediksi, hidupnya berisi hal-hal random dan
cukup absurd. Maka tak heran, kekejaman adalah salah satu dinamika yang seru
bagi manusia. Hidup tanpa huru-hara dan datar saja, tidaklah amat menarik.
Tampilan keseharian, penindasan
orang besar ke yang kecil, yang berkuasa pada yang tak punya jabatan, yang
punya identitas kepada yang nir-identitas. Semua berlaku saling menekan, saling
mengkejami antar liyan. Sehingga betul kata Kemben.
“Kok ndak segera
dibumihanguskan saja makhluk yang bernama manusia ini?”
Empat yang lain hanya melongo. Itu
kalimat yang cukup dilematis dan paradoks. Jika manusia hancur, tidak akan ada
lagi peradaban. Jika peradaban hilang, warung Mbok Sunarti ndak ada, kopag
tak ada, Tik-tok, Instagram, YouTube, sawah-sawah, gedung-gedung—semuanya kukut.
Semuanya akan gulung tikar dan kembali ke abad kekosongan.
“Kita berada di titik itu memang.
Tapi sebisa mungkin, di tengah krisis kekejaman yang dari hari ke hari makin
parah saja. Setidaknya, kopi dan rokok yang kita sedot bass-buss di sini
jadi titik katarsis. Sekian sakit dan kepiluan yang kita terima atau rasakan,
sejenak lupa.” Sahut Banim.
“Ya.. sebenarnya apa yang kita
lakukan tiap hari juga katarsis. Pelarian-pelarian dari segala bentuk kekejaman
manusia baik dari dalam dan luar diri.” Tukas Sartolo.
“Kok..?” Banim kaget dan menyeringai.
“S-sebab kita mikir-mikir kayak gini juga sebenarnya perilaku kejam terhadap diri sendiri. Kejam tidak memberi nafas pada otak untuk beristirahat sejenak.” Tambah Sartolo.
Yang lain hanya menelan ludah.
