Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 13 | Mengawal Kebijakan | Kalau ada kebijakan dari pemerintah, selalu saja tidak tepat sasaran. Pun jika tepat, hasilnya tidak optimal. Banyak muatan-muatan nepotis yang berlaku. Sebut saja kepala desa yang hanya memprioritaskan kerabatnya saja untuk dapat bansos. Orang lain, mbok mati njengking ya mereka acuh.
Atau misalnya, barang yang sudah
jelas-jelas memiliki tag “untuk rakyat” miskin, nyatanya rakyat kaya yang
“miskin jiwanya” pun ikut pakai. Kemben barangkali yang tidak nyaman, kenapa
selalu saja kebijakan dari pemerintah berakhir kabur. Wujudnya kadang ada,
namun terlalu rumit untuk diurai. Perintah dari atas sampai bawah terlalu sukar
diterapkan.
“Tahu kenapa program dan segenap
bantuan pemerintah selalu saja meleset?” Kemben melempar pertanyaan.
“Karena memang tidak niat
membantu—mungkin?” Banim mengangkat dua bahunya.
“Bukan, Nim. Itu sebab kita punya
negara?”
Banim hanya mengernyitkan dahi.
“Coba lihat saja. Negara kita ini
terlalu lebar, diatur dengan konsep republik, asas politiknya demokrasi. Bagus
sih. Tapi minusnya, jargon ‘bersatu meski berbeda’ itu jadi penghalang buat
maju sebenarnya.” Jelas Kemben.
Banim tak mengerti maksud Kemben.
Yang ia tangkap darinya, bahwa konsep negara ini sudah benar. Ketidakbenaran
itu lebih pada pendasaran siapa yang mengurus, bukan tentang apa bentuk negara
yang diurus.
“Aku masih tak mengerti maksudmu.”
Banim menambah.
“Hah!” Kemben harus menjelaskan
panjang lebar lagi. Membenahi posisi duduk. “Bayangkan, negara kita ini sangat
luas. Pulau-pulaunya sangat banyak. Aneka ragam budaya, kondisi finansial,
sosio kulturnya sangat jauh berbeda. Apa pemerintah mengatur dengan kondisi
kompeksitas seluas itu? Harusnya sih bisa. Tapi, perundingan di atas meja
sangat bertolakbelakang dengan kondisi lapangan.”
Banim menyimak dengan serius.
Hampir-hampir ia tersundut rokoknya sendiri sebab lama dibiarkan mengepul saja.
“Katakanlah, bahwa program dan
kebijakan apapun itu, bisa moncer di atas kertas. Pun mekanisme yang sudah
diterapkan, hampir dan dipastikan sempurna tanpa celah. Tapi ini urusan lain.
Bansos misalnya, intruksi dari atas A, merangkak ke bawah jadi C, bawahnya lagi
berubah jadi G, lalu berubah lagi jadi T, dan seterusnya. Namanya masih sama,
tapi hasil aplikasinya berbeda. Bansos untuk sampai tepat sasaran, ia harus
melewati sekumpulan pemungutan-pemungutan. Walhasil, di tengah proses itu ia
terus tereduksi nilainya. Sudah disunat esensi aslinya.”
“Hmm. Ya. Kau benar, Mben. Lantas
bagaimana idealnya agar apa yang kau sebut tadi tak meleset?”
“Satu. Kita mestinya tak punya
negara. Tunggu dulu, jangan dianggap aku tidak pro negara. Maksudku, pengaturan
masyarakat selebar ini, sungguh susah sekali. Beda jika kita punya satu pulau
kecil dan isinya ada raja yang memimpin di sana. Apapun titah raja, akan diikut
oleh rakyatnya, dan bisa dipastikan sampai bawah dengan cukup baik kondisi
landasnya.” Jelas Kemben.
Banim merekah senyumnya.
“Aha! Itu artinya kita harus punya
sistem kerajaan?”
