Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Hari ini kita dihadapkan pada fakta bahwa negara yang
katanya demokratis tapi malah anti kritik.
Kita
berjumpa fakta bahwa mereka yang lantang bersuara malah dibungkam.
Kita
menghadapi serentetan peristiwa bahwa yang menyampaikan kebenaran malah jadi
korban.
Kita
menemui bahwa segala bentuk kerakusan justru muaranya pada penguasa.
Apakah
kekuasaan isinya hanya merampok? Lalu kita sebagai rakyat harus ikut memikirkan
bagaimana agar nilainya tidak bertambah besar? Wah..
Warung
sedikit lengang. Dumbis agak bengong lepas melihat berita bahwa beberapa
aktivis demonstrasi diculik aparat. Entah nasibnya bagaimana. Sebab yang ada di
pikiran Dumbis hanyalah, mereka itu hanya orang kecil yang sedang bersuara. Kok
sampai diperlakukan sedemikian rupa. Di mana marwah orang besar yang menjaga
dan mengayomi orang kecil? Masihkah bisa disebut orang besar jika tindakannya
hanya merepresi orang kecil?
“Apa
kalian tidak takut, seandainya mengkritik pemerintah, lalu justru malah
berakhir di bui?” Tanya Dumbis.
“Aku tak tahu jawabannya. Jika
kritik kemudian disambut dengan jeruji besi, bahwa memang ada yang salah dari
negara kita. Kritik itu bukti cinta kasih, kalau ada kekasih yang keliru, maka
siap kita benarkan. Kita bina dengan baik agar langkahnya tidak serong lagi.”
Jelas Banim
Sartolo menyela, “kalau aku jujur
takut sekali. Bagaimana seandainya aku dibui hanya tindakan konyol semacam itu?
Bisa-bisa masa depanku amburadul. Banyak hal yang aku pikirkan jika harus
mendekam di penjara.”
“Kalau kamu, Cut?”
“Biasa saja sih. Toh jika iya
kritik-kritik itu menghasilkan penjara, apa bisa tenang nurani orang yang
memenjarakan? Manusia tidak bisa lepas dari hal itu. Kekuasaan itu memabukkan.
Ia ibarat ciu yang bikin klenger. Semakin mabuk, semakin nikmat dicecap.”
“Kenapa kau tak takut?” Dumbis
mengejar.
“Sebab yang lebih takut harusnya
yang memenjarakan. Nuraninya rusak, moralnya remuk, nalarnya tak main, bijaknya
kosong, jabatannya nirmakna, kemenangannya semu. Apa kamu pikir jika dengan
menekan orang yang kritis, lantas orang bisa jemawa? Haha. Sayangnya tidak.
Manusia akan tetap kembali ke fitrahnya untuk merasakan sesal, jika tidak di
dunia, mungkin di akhirat nanti. Dan itu tentu lebih berisiko.” Tambah Kecut.
Benarlah apa yang dikatakan Kecut. Bahwa
orang bisa-bisa keblinger dengan kekuasaan. Sebab itu para nabi hadir di muka
bumi ini menegur kekuasaan. Sebab jika tidak ditegur, kekuasaan bisa amat
merusak. Masyarakat yang mau berpikir dan bertindak untuk menyikapi segala
bentuk kebijakan yang tidak menguntungkan rakyat, sejujurnya mereka semua
sedang melakukan tugas-tugas profetik. Tugas yang dulunya hanya diemban oleh
para nabi dan orang-orang yang mendapat pencerahan di jalan Allah.
Maka jangan salah memandang obrolan-obrolan semacam ini menjadi bullshit semata, jika mau menggali makna, akan ada segudang ilmu yang bisa dicecap. Jika implikasinya tidak untuk sesame, minimal untuk diri sendiri agar hidupnya dipenuhi martabat kebatinan juga intelektualisme.
