Jagongan Rakyat 14 | Tugas Kenabian

Jagongan Rakyat 14 | Tugas Kenabian


Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono


Hari ini kita dihadapkan pada fakta bahwa negara yang katanya demokratis tapi malah anti kritik.

Kita berjumpa fakta bahwa mereka yang lantang bersuara malah dibungkam.

Kita menghadapi serentetan peristiwa bahwa yang menyampaikan kebenaran malah jadi korban.

Kita menemui bahwa segala bentuk kerakusan justru muaranya pada penguasa.

Apakah kekuasaan isinya hanya merampok? Lalu kita sebagai rakyat harus ikut memikirkan bagaimana agar nilainya tidak bertambah besar? Wah..

Warung sedikit lengang. Dumbis agak bengong lepas melihat berita bahwa beberapa aktivis demonstrasi diculik aparat. Entah nasibnya bagaimana. Sebab yang ada di pikiran Dumbis hanyalah, mereka itu hanya orang kecil yang sedang bersuara. Kok sampai diperlakukan sedemikian rupa. Di mana marwah orang besar yang menjaga dan mengayomi orang kecil? Masihkah bisa disebut orang besar jika tindakannya hanya merepresi orang kecil?

“Apa kalian tidak takut, seandainya mengkritik pemerintah, lalu justru malah berakhir di bui?” Tanya Dumbis.

“Aku tak tahu jawabannya. Jika kritik kemudian disambut dengan jeruji besi, bahwa memang ada yang salah dari negara kita. Kritik itu bukti cinta kasih, kalau ada kekasih yang keliru, maka siap kita benarkan. Kita bina dengan baik agar langkahnya tidak serong lagi.” Jelas Banim

Sartolo menyela, “kalau aku jujur takut sekali. Bagaimana seandainya aku dibui hanya tindakan konyol semacam itu? Bisa-bisa masa depanku amburadul. Banyak hal yang aku pikirkan jika harus mendekam di penjara.”

“Kalau kamu, Cut?”

“Biasa saja sih. Toh jika iya kritik-kritik itu menghasilkan penjara, apa bisa tenang nurani orang yang memenjarakan? Manusia tidak bisa lepas dari hal itu. Kekuasaan itu memabukkan. Ia ibarat ciu yang bikin klenger. Semakin mabuk, semakin nikmat dicecap.”

“Kenapa kau tak takut?” Dumbis mengejar.

“Sebab yang lebih takut harusnya yang memenjarakan. Nuraninya rusak, moralnya remuk, nalarnya tak main, bijaknya kosong, jabatannya nirmakna, kemenangannya semu. Apa kamu pikir jika dengan menekan orang yang kritis, lantas orang bisa jemawa? Haha. Sayangnya tidak. Manusia akan tetap kembali ke fitrahnya untuk merasakan sesal, jika tidak di dunia, mungkin di akhirat nanti. Dan itu tentu lebih berisiko.” Tambah Kecut.

Benarlah apa yang dikatakan Kecut. Bahwa orang bisa-bisa keblinger dengan kekuasaan. Sebab itu para nabi hadir di muka bumi ini menegur kekuasaan. Sebab jika tidak ditegur, kekuasaan bisa amat merusak. Masyarakat yang mau berpikir dan bertindak untuk menyikapi segala bentuk kebijakan yang tidak menguntungkan rakyat, sejujurnya mereka semua sedang melakukan tugas-tugas profetik. Tugas yang dulunya hanya diemban oleh para nabi dan orang-orang yang mendapat pencerahan di jalan Allah.

Maka jangan salah memandang obrolan-obrolan semacam ini menjadi bullshit semata, jika mau menggali makna, akan ada segudang ilmu yang bisa dicecap. Jika implikasinya tidak untuk sesame, minimal untuk diri sendiri agar hidupnya dipenuhi martabat kebatinan juga intelektualisme. 

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin