Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 16 | Terlalu Kompleks | Fakta yang tidak bisa dipungkiri oleh manusia adalah bahwa dari waktu ke waktu sebenarnya mereka menghadapi kehancuran bersama. Bumi semakin berumur, semakin rapuh. Benda-benda langit lambat laun akan kehilangan energinya untuk mengorbit. Peradaban yang nampak baik di bumi sejatinya membawa konsekuensinya sendiri. Hadirnya teknologi mutakhir turut menyumbang pelemahan moral. Hadirnya tren hedonistik kian membuat manusia kalap. Kekalapan itu akan membawa diri manusia jatuh pada kerakusan yang tak terbatas.
Sebab sebenar-benarnya, manusia
hanyalah masuk dimensi semu untuk perbaikan-perbaikan. Sebab realitanya hanya
kehancuran, dystopia yang mewujud. Adakah yang sanggup menahan laju itu?
Sayangnya tidak. Hanya jiwa mereka yang sadar agar jangan sampai terseret
arusnya. Jangan terseret dengan arus lepas kerakusan, kebobrokan, style modernisme
yang meremukkan nurani.
***
“Ngeli, ning ora keli. Itu
pesan para wali terdahulu, Mbis. Kamu tahu kan?” Banim menimpali Dumbis yang
sebelumnya membicarakan ihwal kondisi umat manusia yang semakin rusak saja.
“Iya, aku pernah mendengar itu. Itu
artinya kita boleh mengikuti apa yang ada, namun jangan sampai terseret dengan
arusnya, begitu, kan?”
“Ya.. ya.. kau benar. Maka biarlah
orang rakus-rakus itu kalau tidak bisa dihentikan. Nanti akan ada masanya
berhenti. Entah dipaksa oleh sang waktu ataukah efek pedih dari tindakannya.”
Jawab Banim.
“Kamu kok jadi tiba-tiba relijius
gini untuk memandang keadaan?” Tanya Dumbis.
Sebenarnya, dalam forum kumpul-kumpul
ngopi itu tiada yang murni membahas agama. Mereka hanya menyandarkan pembahasan
pada entitas besar yang mengatur semesta: Allah SWT. Bukan hendak melegitimasi
persoalan bahwa semuanya harus campur tangan tuhan. Tapi mereka sangat yakin
bahwa adanya keadaan seperti ini, barangkali inilah cara tuhan untuk melatih
jiwa hamba-Nya. Untuk men-tirakati kesukaran demi potensi penguatan jiwa
dan pikiran.
Jika pemikiran tidak diluaskan,
opini kritis tidak dibentuk, skeptisme tidak dinyalakan baranya, manusia hanya
berakhir jadi pengekor. Mereka hidup tapi tak memiliki kehidupannya sendiri
sebab dikendalikan oleh sikap-sikap artifisial yang penuh kedangkalan itu.
Akan berbeda jika poros utamanya
adalah tuhan, Allah SWT. Ada semacam bisikan agar manusia terus yakin untuk
berjuang hingga titik akhir. Sehingga dalam kegelapan apapun, ketimpangan model
apapun, mereka bisa teguh hati. Sebab apa? Ada dzat penolong yang selama ini
sering diabaikan, yakni kehadiran tuhan dalam hati.
“Tidak.. aku tidak relius. Tapi aku
orang bertuhan. Di mana ketika aku menghadapi kompleksitas masalah sosial
politik seperti ini, dan memang mentok. Aku menyerahkan segala urusannya pada
tuhan. Kita ini apa sih? Cuma wayang yang diberi nafas. Agar tidak terpeleset
pada hal yang sama, kesadaran fundamental semacam ini perlu dibentuk untuk
melandasi tindakan-tindakan kita bersama.”
“Oh, jadi maksudmu? Kompleksitas ini
kita urai dari mana, Nim?” Dumbis masih kekeuh bertanya.
