Jagongan Rakyat 6 | Pengusaha yang Nampak Tak Berusaha

Jagongan Rakyat 6 |  Pengusaha yang Nampak Tak Berusaha


 Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono


“Kopi segelas ini, harusnya mahal di kafe-kafe elit ya, Nim?” Tanya Kecut.

“Tentu saja. Aku dulu pernah diajak ke kafe mahal sama bosku. Aku kagok melihat lampu-lampu mewah, struktur mewah kafe-kafe megah. Belum lagi menu-menunya yang sangat mahal.” Jawab Banim.

“Nah, coba kamu berpikir..” Kecut mengarahkan pandangan ke Mbok Sunarti yang klutak-klutik menyiapkan beberapa gelas kopi pelanggan. “Harusnya, Mbok Sunarti udah kaya raya loh. Sekarang usianya sudah menginjak 70 tahun. Berjualan di warung kecil ini sudah hampir 30 tahun. Hampir separuh rentang hidupnya dihabiskan di sini.Untuk berjualan. Tapi maaf saja.. Mbok Sunarti hidupnya masih begini-begini saja. Tidak ada peningkatan baik secara fisik warung atau taraf hidup Mbok Sunarti misalnya.”

“Huss.. kamu ngomong apa sih?” Banim menyela.

“Gak begitu, Nim. Maksudku, dengan proyeksi dagang 30 tahunan, harusnya Mbok Sunarti sudah cukup moncer penghasilannya. Hasil dagangnya, aku rasa sudah cukup untuk beli sapi, sawah, bahkan membagun rumah dan warungnya agar tidak nampak reyot begini.” Jelas Kecut.

“Oalah, begitu toh?” Banim mengangguk. “Ya, ya.. aku nangkap maksudmu. Maksudmu, kenapa Mbok Sunarti tidak mengkapital usahanya secara massif gitu, kan? Kenapa harus tetap kecil-kecilan dan harga merakyat seperti ini? Padahal harga kebutuhan pokok semakin melambung tinggi. Dunia industrial menggenjot habis-habisan untuk barang yang serba mahal. Dunia kian bergerak untuk mempengaruhi manusia jadi serba konsumtif. Sedangkan, Mbok Sunarti seperti berjualan tidak niat. Buka ala kadarnya, kadang terkesan tidak peduli ada pelanggan yang sudah atau belum bayar. Pendek kata, apa yang dilakukan oleh Mbok Sunarti tidak ada spirit kapitalistik sama sekali. Jauh berbeda dengan di luar sana, yang, untuk sekadar masuk toilet saja dikasih bandrol.”

Obrolan itu berangkat dari pikiran Kecut yang gatal. Bahwa hari ini, industry modern hanya berfokus pada nilai kapital saja. Yang dikejar cuma untung maksimal, tapi dengan biaya pengeluaran paling kecil. Tak ada spirit humanis, semua dipatok atas dasar materi. Berbeda dengan Mbok Sunarti yang berjualan hanya sekadar menggugurkan kewajiban tugas sosialnya. Ia sadar diri bahwa perannya di dunia ini adalah berjualan kopi di dusun kecil. Maka ia melakukan itu dengan sembodo, dengan lego lilo. Tak pernah sampai hari ini menagih pelanggan yang kebetulan pas ngutang—seperti lupa begitu saja. Tak pernah sama sekali sambat perihal omsetnya yang turun. Tak pernah mengeluh apakah jualannya itu untung banyak atau justru rugi. Yang pelanggan tahu sampai hari ini hanyalah, bahwa etos kerja yang dilakukan oleh Mbok Sunarti semata hanya memenuhi peran. Tidak lebih dari itu.

“Ya toh? Kadang menerima hitungan sambil ngantuk-ngantuk? Apa benar hitungannya presisi?” Tanya kecut lagi.

“Nah, justru itu nilai plusnya, Cut. Yang dipikirkan Mbok Sunarti bukan untung ruginya. Tapi sebatas, kegiatan sosial untuk berbagi kebahagiaan bersama. Ia berbagi kebahagiaan sebagai penjual, dan kamu pembelinya. Coba bayangkan, seandainya Mbok Sunarti tidak berlaku demikian. Apa pernah kita-kita ini datang ke sini? Ya tidak. Tapi karena Mbok Sunarti setia, ajeg dengan profesi yang digelutinya. Kita juga jadi nyaman, bukan?”

Kecut sepakat dengan perkataan Banim. Ia pun menyadari satu hal penting. Bahwa tingkat kepasrahan Mbok Sunarti bahwa jaminan rezeki itu pasti ada, asal ia sungguh-sungguh melakukan perannya di dunia. Yang nyaris sama sekali tidak ada di benak kaum industrial modern. Mereka tidak melibatkan Tuhan untuk urusan “meraup untung”. Padahal yang maha kaya itu siapa? 

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin