Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono
“Kopi segelas ini, harusnya mahal di kafe-kafe elit
ya, Nim?” Tanya Kecut.
“Tentu saja. Aku dulu pernah diajak ke kafe mahal sama bosku. Aku kagok melihat lampu-lampu mewah, struktur mewah kafe-kafe megah. Belum lagi menu-menunya yang sangat mahal.” Jawab Banim.
“Nah, coba kamu berpikir..” Kecut mengarahkan pandangan ke Mbok Sunarti yang klutak-klutik menyiapkan beberapa gelas kopi pelanggan. “Harusnya, Mbok Sunarti udah kaya raya loh. Sekarang usianya sudah menginjak 70 tahun. Berjualan di warung kecil ini sudah hampir 30 tahun. Hampir separuh rentang hidupnya dihabiskan di sini.Untuk berjualan. Tapi maaf saja.. Mbok Sunarti hidupnya masih begini-begini saja. Tidak ada peningkatan baik secara fisik warung atau taraf hidup Mbok Sunarti misalnya.”
“Huss.. kamu ngomong apa sih?” Banim
menyela.
“Gak begitu, Nim. Maksudku, dengan
proyeksi dagang 30 tahunan, harusnya Mbok Sunarti sudah cukup moncer
penghasilannya. Hasil dagangnya, aku rasa sudah cukup untuk beli sapi, sawah,
bahkan membagun rumah dan warungnya agar tidak nampak reyot begini.” Jelas
Kecut.
“Oalah, begitu toh?” Banim
mengangguk. “Ya, ya.. aku nangkap maksudmu. Maksudmu, kenapa Mbok Sunarti tidak
mengkapital usahanya secara massif gitu, kan? Kenapa harus tetap kecil-kecilan
dan harga merakyat seperti ini? Padahal harga kebutuhan pokok semakin melambung
tinggi. Dunia industrial menggenjot habis-habisan untuk barang yang serba
mahal. Dunia kian bergerak untuk mempengaruhi manusia jadi serba konsumtif. Sedangkan,
Mbok Sunarti seperti berjualan tidak niat. Buka ala kadarnya, kadang terkesan
tidak peduli ada pelanggan yang sudah atau belum bayar. Pendek kata, apa yang
dilakukan oleh Mbok Sunarti tidak ada spirit kapitalistik sama sekali. Jauh
berbeda dengan di luar sana, yang, untuk sekadar masuk toilet saja dikasih
bandrol.”
Obrolan itu berangkat dari pikiran
Kecut yang gatal. Bahwa hari ini, industry modern hanya berfokus pada nilai
kapital saja. Yang dikejar cuma untung maksimal, tapi dengan biaya pengeluaran
paling kecil. Tak ada spirit humanis, semua dipatok atas dasar materi. Berbeda
dengan Mbok Sunarti yang berjualan hanya sekadar menggugurkan kewajiban tugas
sosialnya. Ia sadar diri bahwa perannya di dunia ini adalah berjualan kopi di
dusun kecil. Maka ia melakukan itu dengan sembodo, dengan lego lilo. Tak
pernah sampai hari ini menagih pelanggan yang kebetulan pas ngutang—seperti
lupa begitu saja. Tak pernah sama sekali sambat perihal omsetnya yang turun.
Tak pernah mengeluh apakah jualannya itu untung banyak atau justru rugi. Yang
pelanggan tahu sampai hari ini hanyalah, bahwa etos kerja yang dilakukan oleh
Mbok Sunarti semata hanya memenuhi peran. Tidak lebih dari itu.
“Ya toh? Kadang menerima hitungan
sambil ngantuk-ngantuk? Apa benar hitungannya presisi?” Tanya kecut lagi.
“Nah, justru itu nilai plusnya, Cut.
Yang dipikirkan Mbok Sunarti bukan untung ruginya. Tapi sebatas, kegiatan
sosial untuk berbagi kebahagiaan bersama. Ia berbagi kebahagiaan sebagai
penjual, dan kamu pembelinya. Coba bayangkan, seandainya Mbok Sunarti tidak
berlaku demikian. Apa pernah kita-kita ini datang ke sini? Ya tidak. Tapi
karena Mbok Sunarti setia, ajeg dengan profesi yang digelutinya. Kita
juga jadi nyaman, bukan?”
Kecut sepakat dengan perkataan Banim. Ia pun menyadari satu hal penting. Bahwa tingkat kepasrahan Mbok Sunarti bahwa jaminan rezeki itu pasti ada, asal ia sungguh-sungguh melakukan perannya di dunia. Yang nyaris sama sekali tidak ada di benak kaum industrial modern. Mereka tidak melibatkan Tuhan untuk urusan “meraup untung”. Padahal yang maha kaya itu siapa?
