Jagongan Rakyat 7 | Dusun-Dusun Penyokong Negara

Jagongan Rakyat 7 | Dusun-Dusun Penyokong Negara

 


 Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono


Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 7 | Dusun-Dusun Penyokong Negara | Sore yang cerah, empat orang sudah berkumpul di warung. Kemben, Dumbis, Sartolo, dan Banim. Kecut ke mana? Entahlah, mungkin masih di rumah, atau malah belum pulang dari mancing di kali. Atau mungkin, bantu manen padi di sawah tetangganya. Namanya juga pekerja serabutan, apapun siap tandhang gawe. Satu etos yang seringkali luput dari mata pemerintah sehingga dianggapnya, kaya atau tidaknya masyarakat disebabkan oleh faktor sempit: kemalasan.

Tuduhan klasik yang nyaris tanpa bukti sama sekali. Mereka bekerja keras, punya daya hidup yang keras. Punya ghirah yang tak bisa dikatakan berpangku tangan saja. Kelihatannya saja, mereka ngopa-ngopi dan laiknya pengangguran. Tapi ketahuilah. Begitulah gaya hidup kerakyatan. Sehingga, mereka tak butuh untuk merakyat lagi. Kok ada calon pejabat dengan branding “merakyat”. Lah, sangat lucu. Jadi sejak dulu belum pernah merakyat?

“Aku punya pertanyaan. Gini. Lebih dulu mana dusun dan negara?” Dumbis memancing pertanyaan.

Serempak, tiga sisanya menjawab bahwa negara dulu yang harus mewujud. Barulah akan ada yang namanya dusun. Di alam pikir mereka, hierarki kewilayahan bisa terbentuk dari atas ke bawah: negara-provinsi-kabupaten-kota/kabupaten-desa-dusun.

Dumbis tertawa, “kok bisa? Kalian pikir selama ini negara yang menyokong dusun? Salah itu. Itu akal-akalan pemerintah saja. Orang dusun lah yang menyokong negara hingga saat ini.”

Kemben penasaran, “memangnya begitu? Kan kita menginduk pada negara, bukan kita, orang dusun yang diinduki negara.”

“Sekarang pertanyaannya, aku gak naif ya.. apa yang bisa ditawarkan oleh negara selain kebobrokan, ketimpangan di sana sini? Hampir tiap hari kabar buruk muncul dari sana.” Jelas Dumbis.

“Kok kamu jadi sinis ke negara gitu, Mben?” Sahut Sartolo.

“Loh, bukan.. bukan begitu, Tol. Masalahnya sampai sekarang aku jengah juga. Kok seolah-olah orang dusun selalu dipinggirkan dan paling butuh dikasih makan. Kita bisa makan sendiri dari keragaman lokalitas, Tol. Maksudnya, kita nanam kayu tumbuh singkong di ladang. Nyebar biji-bijian, menumbuhkan padi dan jagung yang siap kita konsumsi. Kita nyebar bibit-bibitan, ada imbal balik komoditi yang bisa mengjidupi kita. Itu di dusun ya, di perkampungan. Di negara? Kita bayar pajak, raib. Kita percaya untuk bayar asuransi, lenyap. Kita bayar iuran yang inginnya, tumbuh sebagai infrastruktur yang mumpuni dari waktu ke waktu. Beritanya tetap sama saja: ujungnya ditilap lagi. Sedangkan, perut mereka tidak diberi makan oleh gemilang metropolitan, tapi dari dusun. Apa ada orang berdasi nanam padi? Apa ada yang mengurus ladang? Apa mereka pernah masuk kandang sapi yang tiap pagi mereka minum susunya? Ndak ada. Maka jelas sekali posisiku. Sebenarnya, dusun lah yang menyokong negara. Bukan sebaliknya.”

Pukulan telak! Dumbis luar biasa membalik logika yang selama ini dipercaya banyak orang—termasuk di sirkelnya. Mendengar itu, tiga temannya berpikir keras. Rasa-rasanya benar juga. Sikap negara yang tidak tawadhu’ ke dusun adalah bentuk imoralitas yang nyata.

“Ya… ya.. aku setuju itu, Mbis.” Kemben mengiyakan. “Kok jadi seperti kebo nyusu gudhel, ya? Kita yang menghidupi, eh kok selalu dinarasikan seolah kita yang dihidupi mereka.” 

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin