Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Kenapa orang sering merasa rendah diri? | Dikit-dikit minder, dikit-dikit minder..
Itu bawaan sifat manusia. Ternyata
pernyataan bahwa manusia itu lemah tak jarang jadi bumerang bagi orang
tersebut. Perasaan minder, tak layak, tak cocok, tak ma
mpu berkompetisi, adalah
satu hambatan serius untuk berkembang.
“Kamu pernah ketemu turis, Cut?”
Dumbis pada Kecut.
“Pernah. Waktu rekreasi, holiday ke
beberapa wisata. Aku ketemu mereka.”
“Apa yang dilakukan orang-orang saat
ketemu para turis?” Kejar Dumbis.
“Minta foto, heboh sendiri, seperti
ketemu artis.”
“Tepat sekali. Itu kelemahan orang
kita. Kenapa tidak dibalik saja? Mereka yang minta foto ke penduduk lokal.
Bukan malah penduduk lokal yang minta foto ke orang asing.”
Kecut mengernyitkan dahi, “mana
mungkin? Para pelancong tak butuh itu. Mereka butuh liburan, yang mana spot
untuk dijadikan foto mereka bukan penduduk lokal. Melainkan bentang alam,
budaya, serba-serbi infrastruktur di negara kita—itu bidikan utamanya. Kita mah
apa.. apa menariknya dari kita?”
“Nah, itu maksudku. Seringkali kita
ini, eh maksudku orang kita.. kerap merasa tidak layak di hadapan manusia lain.
Padahal toh harusnya jangan begitu. Biasa saja. Memang Belanda dan segenap
penjajah terdahulu sudah memporak-porandakan kita semua. Termasuk melumat
mentalitas kita, sehingga kita merasa pecundang; dipecundangi.”
Kecut masih meraba-raba pemahaman
yang lain. “Lalu apa solusinya untuk itu?”
“Ya minimal jangan merasa rendah
diri. Merasa insekyur dengan tanpa ada tindaklanjut untuk memperbaiki
diri, itu pengecut namanya. Boleh kita membandingkan dengan yang lain. Tapi
tidak lantas mundur teratur dan menganggap diri lemah. Asah terus kualitas.
Capai skill-skill yang bisa dipakai untuk bersaing. Lebih-lebih harus punya
keyakinan bahwa kita semua ini hakikatnya sama. Tak perlu minder-minder
segala.”
Kecut hanya manggut-manggut saja.
“Tapi sayang.. kebobrokan itu makin
diperparah oleh dunia siber. Internet, media daring, socmed. Menghantam
tanpa henti dan menjadi wahana bagi orang-orang yang lemah berpikir untuk terus
membandingkan dan membandingkan. Sudah di alur sejarah remuk dihantam penjajah.
Merdeka direduksi oleh konten-konten dunia maya. Entah, aku angkat tangan
rasanya.”
