Kenapa orang sering nanya, “kapan nikah?”


Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono


Lingkarkiri.or.idKenapa orang sering nanya, “kapan nikah?” | Kemben dan Banim sudah mafhum. Di tongkrongan, mereka kerap sekali mendapat pertanyaan semacam itu. Seolah hal itu tak pernah berhenti barang sejenak. Menclok ke warung, kapan nikah. Menclok ke tahlilan, kapan nikah. Apalagi kalau momentum hari-hari besar. Segenap pertanyaan itu seperti datang menghunjam tanpa henti.

Idul fitri, topiknya kapan nikah.

Tahun baru, kapan nikah lagi.

Idul adha, hari pahlawan, tujuh belasan Agustus—yang ditanyakan kapan nikah terus. Seolah tak ada topik kreatif lain yang bisa dibikin basa-basi. Walhasil, belakangan dua orang ini sangat muak dan kumpullah di sebuah tempat.

“Kamu tahu, Nim? Apa alasan banyak orang menanyakan seperti itu. Itu kan topik sampah, usang, tak kreatif, kerdil sekali. Kenaa orang-orang kita seperti tidak ada yang diurusi selain menanyakan itu-itu terus?” Kemben setengah protes pada Banim.

Banim yang lebih dewasa darinya, tentu bisa menyikapi dengan santai dan bersahaja.

“Oh? Itu? Ya cuma iseng aja. Basa-basi, kok”.

“Maksudmu? Basa-basi gimana? Basa-basi harusnya tidak menggejala seperti itu, Nim. Hampir banyak orang loh. Dan aku tahu, notabene yang mendapat pertanyaan kayak kita pun gusar. Termasuk kau juga, kan?” Tanya Kemben.

Banim mengatupkan mulut, menghela nafas sejenak. “Gini loh, Nim. Itu satu pertanda bahwa memang masyarakat kita tak cukup empatif untuk membangun ikatan sosial. Mulut mereka asal nyerocos tanpa harus memikirkan, bagaimana pertanyaan yang dianggap receh itu sejatinya melukai perasaan. Pemahaman itu yang tidak sampai pada mereka. Maka jika begitu jadinya, kita harus ngalah sedikit lah. Toh ya apa sih. Cuma omong kosong, kan?” Tegas Kemben.

Banim manggut mantap, “Ya, sih. Kamu ada benarnya Mben. Memang masyarakat kita tidak memiliki kapabilitas untuk bersosial sedikit lebih baik. Gaya bertanya saja harus mengikuti template yang entah kapan itu tercipta. Dari zaman baheula kah? Zaman batu kah? Aku menganggapnya cukup primitif. Tapi biarlah. Memang jika ada kesempatan, agaknya mereka akan kuarahkan untuk bertanya pada hal-hal yang sedikit lebih melegakan..”

“Apa hayoo?” Sahut Banim,

“Sibuk apa sekarang? Gimana kabar keluarga? Gimana pendapatmu tentang kejadian anu.. Begitulah kira-kira”.

Tanpa menjawab apapun, Kemben hanya tertawa lepas. “Mben, Kemben.. lucu kamu ini”

“Kok lucu piye toh?”

“Ya lucu. Lah wong basa-basi saja masih begitu modelnya. Mau kamu arahkan untuk bertanya tentang hal lain yang lebih wise selain itu. Mereka tidak sama dengan kita. Mereka yang dipikir hanyalah hal-hal fundamental dan dangkal dalam kehidupan. Nikah, ngesex, duit, rerasan... itu semua topik rendahan. Dan memang itulah bukti betapa masyarakat kita masih kurang dalam pendidikan. Terkhusus pendidikan untuk membangun empati. Maka dari sini, kau tidak perlu kaget. Tak perlu juga gusar. Namanya juga orang tidak tahu. Sejak dulu memang, kerumunan selalu mendominasi.”

“Mendominasi apa?”

“Ketololan komunal!” Tegas Banim.

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin