Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 11 | Kedaulatan Emosi dan Pangan | Kali ini tidak seperti biasanya. Obrolan yang hari-hari sebelumnya cukup riuh rendah. Untuk saat ini, nyaris tak ada obrolan berarti. Apakah mereka kelelahan? Lima orang penghuni “basecamp” Mbok Sunarti sudah kehabisan energi. Biasanya, cuat-cuat datang dari mulut mereka, tembak sana-sini. Melempar bola-bola liar untuk saling membalikkan dan mengasah opini.
Sepi.
Lima orang ini cuma saling pandang.
Dumbis menghela napas panjang.
“Lelah juga ya ternyata?”
“Apa maksudmu lelah?” Sahut Banim.
“Lelah. Ya lelah. Hidup ini
melelahkan.”
Banim mengangguk. Tak ingin
menanggapi juga.
Memang momentum yang tiada bisa
ditanggapi. Jika melihat realita yang ada, dari hari ke hari mereka semakin
diimpit oleh banyak persoalan; tentang keniscayaan hidup. Kebutuhan pokok terus
meroket, pintu-pintu lowongan pekerjaan menyempit, kebijakan publik tak pernah
menguntungkan rakyat akar rumput. Titik nadir demokrasi remuk redam. Dicekik
oleh pejabat-pejabat culas dan maniak egosentris.
“Wes toh, tenang.” Sartolo
menenangkan. “Sama, aku juga merasakan kepayahan yang berat. Kadang aku
khawatir juga dengan anak-anakku yang tak bisa makan. Dengan masa depan mereka
yang makin berat tantangannya. Terima sajalah bahwa manusia itu memang unik;
ada yang baik dan buruk. Titik temu itu yang menjadikan hidup ini berwarna.
Mungkin semua serba susah, tapi kita sejak kapan tidak susah? Orang dusun
selalu dianggap terpinggirkan dan tertinggal. Kita saja sebagai petani, jadi
rantai ekonomi paling bawah. Padahal kita yang menyuplai beras-beras itu.”
“Itu artinya.. sebenarnya kita ndak
susah-susah amat, kecuali jika kita mengikuti narasi yang dibangun
pemerintah. Mereka tak paham lokalitas. Praktik negoisasinya hanya ada di atas
meja. Bukan terjun di lapangan.” Kemben menambah.
"Ya tetap susah toh, Mben.”
Sela Kecut. “Tapi maksud Sartolo itu, kita—dengan keadaan apapun—sepertinya
sudah terlampau biasa. Kita di kampung punya hewan ternak, punya sepetak sawah
kecil, punya pekarangan sederhana. Yang kalau dipikir-pikir, itu bisa membuat
kita berdaulat. Asal tadi, tidak terlalu ikut narasi pemerintah dengan impian
yang muluk-muluk. Kita hari ini terjebak di sana. Bahwa mimpi-mimpi haruslah
tinggi. Capaian haruslah gemilang. Padahal, sesungguhnya narasi modern itu amat
menyiksa. Kita terlepas dari fitrah kemanusiaan sesungguhnya.”
“Betul!” Sartolo menyahut singkat.
“Harusnya kita menggunakan local wisdom masing-masing. Bukan berarti
menjadi orang kampung tidak keren. Kita keren dalam taraf yang serba lokal. Dan
lokalitas itu bukan nilai pasti. Tidak ada instrumen untuk mengukur keren atau
tidaknya sesuatu. Pemerintah nampak keren dengan menyebut ‘keadaulatan pangan’.
Lalu apakah kita buruk dengan menyebut ‘urip mung sak madyo’? Tidak
juga.”
“Ya..ya.. kalian benar” Dumbis
mengangkat omongan.
