Oleh: Ahmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Sesak Napas di Warung Kopi | Sore itu, Kecut memesan teh hangat campur jahe di warung. Tidak seperti biasanya, Kecut merupakan adiktif kopi paling ulung. Sehari, ia bisa meneguk 4-5 gelas. Kondisi yang cukup mengerikan bagi nalar kesehatan modern. Tapi bagi orang-orang dusun seperti Kecut dan kawannya, kopi merupakan satu komoditi yang cukup merakyat. Ia bisa dinikmati oleh Kalangan elit sampai akar rumput. Kopi memangkas sekat-sekat kasta sosial.
Beberapa hal yang membedakan mungkin di rasa, harga, dan pelayanan. Kalau di kafe elit, v60, espresso, machiato, piccolo, cappuccino, americano, mungkin akan sangat mahal sekali. Ndak cukup di angka 3-5 ribuan. Bisa-bisa di angka 40-50 ribuan. Di warung Mbok Sunarti, nama kopi variannya cukup simple: kopi hitam dan kopi susu. Satu dinamika yang, kalau mau di-elit-kan harganya juga ndak pantas. Apalagi bicara soal pelayanan, ndak bakalan dapat ucapan welcoming atau senyum manis pegawai. Warung Mbok Sunarti sudah semacam rumah singgah milik siapapun, dan tidak perlu merasa istimewa di sana.
“Kok minumnya ganti?” Tanya Banim.
“Ya, hidungku meler kalau siang. Malamnya mampat. Hampir-hampir aku kelonjotan karena susah bernafas.” Jawab Kecut.
“Haha, susah bernafas. Sudah seperti kondisi rakyat kita, kan?”
“Lah, maksudmu?” Kecut mengejar.
“Ndak susah bernafas bagaimana.
Hampir tiap hari kita diberondong misil ketakutan-ketakutan, berita buruk
negara, dunia, politik, kejahilan modernitas. Saban waktu kita dibekap dengan
info-info yang menyesakkan. Kata pekerja pers, the bad news is the good
news. Matane!! Good itu kalau yang dibawa bikin angin segar,
setidaknya meringankan kepala kita. Lah, tiap hari yang mampang cuma
berita-berita buruk. Kapan kita menghirup nafas? Sesak, toh?”
Benar kata Banim.
Hampir setiap waktu, justru kecepatan informasi menjadikan manusia kalut,
kalap, dan hanyut oleh arusnya yang gila-gilaan. Tiap menit, tiap detik.
Notifikasi selalu ramai akan kabar buruk. Parahnya adalah, dominasi berita
buruk itu berasal dari negara. Belum juga korupsi A diangkat, muncul lagi
berita korupsi B, muncul yang C, yang D. Suap ini lah, itulah. Pemalsuan data.
Dan ahhh… Negara tai kucing.
