Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 15 | Gadis yang Memikat | “Kamu tahu mengapa Nabi Adam turun ke bumi?” Setelah bengong panjang. Sartolo mencuatkan satu pertanyaan kepada kawan-kawannya.
Warung Mbok Sunarti belum lama buka.
Pagi masih sedikit menyisakan remangnya, tapi justru pemuda itu mengawali hari
dengan secangkir kopi. Syahdan, kawan yang lain pun agak wegah. Pagi utuk-utuk
sudah diajak mikir berat-berat saja.
“Aduh.. masih pagi kamu nanya
pertanyaan retoris kayak gini, Tol?” Dumbis coba menyangkal.
“Ada yang salah? Hah? Kan biasa,
cuma nanya.” Sartolo mengelak.
“Oh ya gampang saja. Anak SD pun
tahu jawaban itu, Tol. Adam turun ke bumi karena digoda oleh Hawa. Digoda
wanita! Itu titik lemah lelaki. Sudah, itu cerita usang saja.” Kemben mencoba
memutus diskusi.
Sartolo masih melawan. Ia
melanjutkan penjelasan yang bikin mikir saja.
“Nah.. itu maksudku. Aku membaca
pola cerita klasik, bahwa chaos pertama di muka bumi, terutama kejatuhan
manusia, itu disebabkan oleh wanita. Dan kamu tahu? Pola kejatuhan-kejatuhan it
uterus merambat sampai sekarang.”
“Kamu ngomong apa sih, Tol? Ndak mudeng
aku.” Kecut mencoba masuk.
“Maksudku gini, rekan sekalian.”
Sahut Sartolo. “Kalian tahu kenapa kehadiran negara kita disebut sebagai ibu
pertiwi? Kenapa bukan bapak, bukan mbah, bukan kakak, bukan cak, bukan paklik,
bukan om, bukan mas? Sebab sejatinya konotasi ‘ibu’ merujuk pada gender
wanita. Maka negara digambarkan dengan objek yang berparas ayu, bertubuh molek,
gincu-nya merona, binar matanya menggoda, lekuk tubuhnya mengundang
birahi. Maka wajar, bagi para lelaki utamanya, libidonya teramat tinggi
sehingga inginnya segera mengangkangi negara. Negara—ibu pertiwi—ingin
dikangkangi. Penis para lelaki itu sudah kemecer melihat keelokan si ibu
pertiwi. Syahwatnya sudah tak tertahankan lagi untuk segera melampiaskan
orgasme pada—maaf—lubang vagina negara.”
Sekarang, kawan-kawan semua sudah
paham. Bahwa maksud Sartolo itu, ia memberi analogi bahwa negara teramat
menggoda untuk diperas, untuk dimainkan puting payudara sumber daya alamnya,
terlalu nikmat untuk dicecap klitoris kesempatan korupsinya, terlalu
menggairahkan untuk meremas bokong empuk manipulasi data-datanya, terlalu indah
untuk disemprot sperma lubang senggama bangku kekuasaannya.
“Tak heran bukan? Para lelaki itu
begitu menuruti hasrat nafsunya. Sehingga sangat dimungkinkan, dan pasti. Semua
yang memangku jabatan akan tergoda dengan kemolekan-kemolekan yang ditawarkan
negara. Kecuali, kecuali mereka yang paham dan ngerti untuk menahan syahwat.
Bahwa konotasi ‘ibu’ sebenarnya adalah wanita suci, wanita yang mengandung
kita, mengasuh kita, bahkan pada titik paling dasar, ialah yang melahirkan
kita. Sangat menjijikkan sekali, tingkatannya laknat berkali lipat jika ada
lelaki yang tega untuk memperkosa ibunya. Itulah kenapa murka Allah datang.
Sebab perbuatan keji semacam ini, segala bentuk kezaliman pada ibu pertiwi
perlu segera dihentikan.”
Semuanya bergeming dengan penjelasan
Sartolo.
