Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Setan saja geleng-geleng kepala.
Kalau melihat tingkah laku umat
manusia sekarang, rasa-rasanya setan pun akan minder. Betapa kerakusan yang
dilakukan oleh manusia sudah di luar koridor batasan mereka. Sudah di luar SOP
persetanan, rules-nya sudah bukan agenda setan lagi. Mengapa? Iya,
saking bengisnya.
Hari ini kita menghadapi keadaan
bahwa tak banyak orang yang mendasarkan pada empati untuk bertindak. Pembabatan
hutan sekian juta hektar, agenda program dengan biaya sekian miliar—yang tak
diketahui siapa yang diuntungkan, tentunya bukan rakyat, sampai penghalalan
berbagai cara demi mengamankan slot kepentingan diri.
“Dunia itu makin pragmatis, Nim.
Kamu ndak perlu kaget. Dikatakan, orang yang jujur makin ajur. Yang
nilap makin kalap. Yang benar tak akan tenar. Yang menjilat hidupnya nikmat.
Yang jahat dikata penyelamat. Yang bajingan dianggap panutan.” Celutak Banim.
Belum pula rokoknya menyala, Dumbis
harus menyimak mulut Banim yang celutak itu. “Lalu, maksudmu orang hari ini
perlu berlaku demikian jahatnya?” Disedotnya satu isapan..
Banim menggeleng.
“Tapi nanti tida eksis dong. Hari
ini kita dituntut show off agar dianggap berproses.” Bantah Dumbis.
“Kau coba lihat orang-orang itu!”
Banim menunjuk jari pada orang yang lalu-lalang di jalanan. “Lihat, mereka itu
semua orang biasa. Sama seperti kita. Tak perlu merasa spesial, ingin
diunggulkan, ingin mencapai taraf keduniaan dengan hal-hal rendahan. Hidup kan
cuma mampir minum. Minum cuma sebentar, lalu kamu harus melanjutkan perjalanan
lagi.”
“Ah.. itu penggambaran usang.”
Dumbis meremehkan kata Banim tadi.
Baginya, ucapan-ucapan seperti itu sudah mafhum diketahui bersama. Tapi
nyaris banyak orang tak ingat. Ingat-ingat hanya ketika didera musibah saja.
Kalau dikelilingi kebahagiaan, yang diingat hanyalah tentang keabadian hidup.
“Wah, kau tak tahu ya? Ya memang itu
usang, jadul, kuno. Tidak sesuai spirit modern. Tapi kamu juga harus jujur. Hal
yang dianggap jadul itu masih relevan sampai sekarang, meski mungkin anak cucu
kita esok tak kenal lagi esensinya. Tapi itu penting. Sebab hari ini, banyak
orang tak tahu apa esensi dari ‘mampir’, istirahat, ngaso. Inginnya
mereka hidup abadi di tengah profanitas yang nyata ini.”
“Tinggal apa yang diminum dong..
kalau minum air biasa, ndak bakalan kamu teler. Lain kalau yang diminum itu
arak, alkohol, cairan-cairan pemabuk. Ya wajar saja jadi lupa. Sekarang
posisimu di mana? Kamu minum air atau arak?” Dumbis membalik omongan Banim.
Dengan agak kagok Banim menjawab,
“Y-ya.. Y-ya, jelas minum air dong.”
“Nah, kan? Itu maksudku. Kita-kita
ini tak cukup mabuk oleh dunia sebab yang diminum air biasa. Minuman keras itu
mahal. Kantong kere-kere seperti kita tak mampu beli itu semua.”
“Jadi, maksudmu mereka yang sudah
mabuk dunia itu minumannya bukan air lagi?” Malah Banim yang ganti penasaran.
