Jagongan Rakyat 26 | Hidup Mampir Minum. Tunggu Dulu, Minum Apa?

Jagongan Rakyat 26 | Hidup Mampir Minum. Tunggu Dulu, Minum Apa?

Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono 


Setan saja geleng-geleng kepala.

Kalau melihat tingkah laku umat manusia sekarang, rasa-rasanya setan pun akan minder. Betapa kerakusan yang dilakukan oleh manusia sudah di luar koridor batasan mereka. Sudah di luar SOP persetanan, rules-nya sudah bukan agenda setan lagi. Mengapa? Iya, saking bengisnya.

Hari ini kita menghadapi keadaan bahwa tak banyak orang yang mendasarkan pada empati untuk bertindak. Pembabatan hutan sekian juta hektar, agenda program dengan biaya sekian miliar—yang tak diketahui siapa yang diuntungkan, tentunya bukan rakyat, sampai penghalalan berbagai cara demi mengamankan slot kepentingan diri.

“Dunia itu makin pragmatis, Nim. Kamu ndak perlu kaget. Dikatakan, orang yang jujur makin ajur. Yang nilap makin kalap. Yang benar tak akan tenar. Yang menjilat hidupnya nikmat. Yang jahat dikata penyelamat. Yang bajingan dianggap panutan.” Celutak Banim.

Belum pula rokoknya menyala, Dumbis harus menyimak mulut Banim yang celutak itu. “Lalu, maksudmu orang hari ini perlu berlaku demikian jahatnya?” Disedotnya satu isapan..

Banim menggeleng.

“Tapi nanti tida eksis dong. Hari ini kita dituntut show off agar dianggap berproses.” Bantah Dumbis.

“Kau coba lihat orang-orang itu!” Banim menunjuk jari pada orang yang lalu-lalang di jalanan. “Lihat, mereka itu semua orang biasa. Sama seperti kita. Tak perlu merasa spesial, ingin diunggulkan, ingin mencapai taraf keduniaan dengan hal-hal rendahan. Hidup kan cuma mampir minum. Minum cuma sebentar, lalu kamu harus melanjutkan perjalanan lagi.”

“Ah.. itu penggambaran usang.”

Dumbis meremehkan kata Banim tadi. Baginya, ucapan-ucapan seperti itu sudah mafhum diketahui bersama. Tapi nyaris banyak orang tak ingat. Ingat-ingat hanya ketika didera musibah saja. Kalau dikelilingi kebahagiaan, yang diingat hanyalah tentang keabadian hidup.

“Wah, kau tak tahu ya? Ya memang itu usang, jadul, kuno. Tidak sesuai spirit modern. Tapi kamu juga harus jujur. Hal yang dianggap jadul itu masih relevan sampai sekarang, meski mungkin anak cucu kita esok tak kenal lagi esensinya. Tapi itu penting. Sebab hari ini, banyak orang tak tahu apa esensi dari ‘mampir’, istirahat, ngaso. Inginnya mereka hidup abadi di tengah profanitas yang nyata ini.”

“Tinggal apa yang diminum dong.. kalau minum air biasa, ndak bakalan kamu teler. Lain kalau yang diminum itu arak, alkohol, cairan-cairan pemabuk. Ya wajar saja jadi lupa. Sekarang posisimu di mana? Kamu minum air atau arak?” Dumbis membalik omongan Banim.

Dengan agak kagok Banim menjawab, “Y-ya.. Y-ya, jelas minum air dong.”

“Nah, kan? Itu maksudku. Kita-kita ini tak cukup mabuk oleh dunia sebab yang diminum air biasa. Minuman keras itu mahal. Kantong kere-kere seperti kita tak mampu beli itu semua.”

“Jadi, maksudmu mereka yang sudah mabuk dunia itu minumannya bukan air lagi?” Malah Banim yang ganti penasaran.

            “Ya masih air. Tapi airnya jadi keruh, jadi mutanajjis. Air yang aslinya bening dan suci, mereka campur dengan adiksi penyimpangan, kekejaman, tipu muslihat, kelicikan, adu domba, keculasan. Zat-zat itu yang menjadikan air biasa jadi kotor. Beningnya berubah lebih dari air comberan. Itu yang bikin mabuk!”. Ketus Dumbis.

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin