Jagongan Rakyat 25 | Pangkal Tragedi Sejarah Kepemimpinan

Jagongan Rakyat 25 | Pangkal Tragedi Sejarah Kepemimpinan


Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono 


Asu rebutan balung; Anjing berebut tulang

Satu kondisi atas penggambaran lokalitas guna memegang nilai hidup, bahwa dalam tataran kehidupan ini jangan sampai berebut, berkelahi, berseteru hanya karena perkara kecil. Perkara yang tidak sebanding hasil manfaatnya dan mudharat-nya.

Dalam rentang sejarah umat manusia, kita dihadapkan pada satu fenomena rendahan untuk berebut kekuasaan. Padahal kekuasaan sendiri adalah hal yang remeh, rendahan, menjijikkan bahkan. Sebab apa? Kepenguasaan sejatinya tidak direbutkan, tapi diterima. Titik berangkatnya adalah dari kompetensi, beranjak pada kepercayaan, naik menjadi kerelaan, mengendap dalam ketidaktegaan, berakhir dengan pengabdian.

Tapi, siapa peduli? Toh hari ini kekuasaan seperti ajang sayembara. Sayembara untuk mendapat suara, orang perlu nyogok ke sana kemari dan menjadi lamis lambenya. Mana kompetensi? Dari mana kepercayaan bisa mewujud? Kerelaan apalagi, tega pasti!

Semua jadi omong kosong. Peradaban kita terlalu rendah untuk berebut menjadi penguasa. Sebab seberkuasa apapun, coba di-zoom out sedikit ke atas. Bahwa ternyata kita tinggal di sekepal tanah yang cukup kecil bernama bumi. Siapapun yang berani berpikir secara kosmikal, akan menemui titik pemahaman bahwa dirinya itu cuma debu di tengah jagat yang maha agung ini. Bayangkan jika tanah itu dihantam oleh gumpalan tanah yang lebih besar. Apa jadinya?

“Amanah kepemimpinan, itu kecelakaan terbesar umat manusia, Cut. Kamu tahu itu?” Kata Kemben.

Yang diajak bicara cuma manggut-manggut saja.

“Kecelakaan. Sampai kita hadir di muka bumi ini kecelakaan. Kalau kita sering menenggak cerita tentang kanjeng Nabi Adam yang turun ke bumi sebab Ibu Hawa, ah itu sudut pandang yang kurang fair menurutku. Sebab yang membuat manusia hadir di muka bumi adalah kepemimpinan; kekhalifahan.”

“Maksudmu bagaimana? Jadi kita hadir dari mana jika bukan peristiwa ‘buah surga’ yang menjadi sebab utama?” Kecut ganti mengejar.

“Kita hadir karena kepemimpinan. Dulu Allah menawarkan gunung dan lautan. Tapi di antara mereka tak ada yang sanggup untuk mengemban amanah itu. Tapi malah bumi kemlinthi. Sok-sok bisa mengatur bumi dengan kekuasaan. Maka jadilah Adam, jadilah peradaban manusia. Begitu mulanya. Kita perlu jernih memandang itu.”

“Ya.. ya. Lalu, selain pembunuhan. Menurutmu akar konflik manusia juga kepemimpinan?”

“Loh, ya benar sekali. Sanggahan malaikat agar Allah SWT. Tidak buru-buru membuat makhluk bernama ‘manusia’ untuk hadir di muka bumi, itu sebenarnya percikan utamanya. Pangkal dari segala masalah.” Jelas Kemben.

“Tapi kita nggak mengamini itu sebagai tragedi peradaban dong, kan Allah maha mengetahui.” Bantah Kecut.

“Yang membuatku tidak mengamini itu, ketika pola-pola kekuasaan jadi keliru. Salah niat, salah sasaran, salah tujuan, salah haluan, salah basis pemikiran. Wajar saja, bumi dirusak oleh sekelompok orang yang menyebut diri mereka ‘pemimpin’.”

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin