Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Asu rebutan balung; Anjing berebut tulang
Satu kondisi atas penggambaran
lokalitas guna memegang nilai hidup, bahwa dalam tataran kehidupan ini jangan
sampai berebut, berkelahi, berseteru hanya karena perkara kecil. Perkara yang
tidak sebanding hasil manfaatnya dan mudharat-nya.
Dalam rentang sejarah umat manusia,
kita dihadapkan pada satu fenomena rendahan untuk berebut kekuasaan. Padahal
kekuasaan sendiri adalah hal yang remeh, rendahan, menjijikkan bahkan. Sebab
apa? Kepenguasaan sejatinya tidak direbutkan, tapi diterima. Titik berangkatnya
adalah dari kompetensi, beranjak pada kepercayaan, naik menjadi kerelaan,
mengendap dalam ketidaktegaan, berakhir dengan pengabdian.
Tapi, siapa peduli? Toh hari ini kekuasaan
seperti ajang sayembara. Sayembara untuk mendapat suara, orang perlu nyogok ke
sana kemari dan menjadi lamis lambenya. Mana kompetensi? Dari mana
kepercayaan bisa mewujud? Kerelaan apalagi, tega pasti!
Semua jadi omong kosong. Peradaban
kita terlalu rendah untuk berebut menjadi penguasa. Sebab seberkuasa apapun,
coba di-zoom out sedikit ke atas. Bahwa ternyata kita tinggal di sekepal
tanah yang cukup kecil bernama bumi. Siapapun yang berani berpikir secara
kosmikal, akan menemui titik pemahaman bahwa dirinya itu cuma debu di tengah
jagat yang maha agung ini. Bayangkan jika tanah itu dihantam oleh gumpalan
tanah yang lebih besar. Apa jadinya?
“Amanah kepemimpinan, itu kecelakaan
terbesar umat manusia, Cut. Kamu tahu itu?” Kata Kemben.
Yang diajak bicara cuma
manggut-manggut saja.
“Kecelakaan. Sampai kita hadir di
muka bumi ini kecelakaan. Kalau kita sering menenggak cerita tentang kanjeng
Nabi Adam yang turun ke bumi sebab Ibu Hawa, ah itu sudut pandang yang
kurang fair menurutku. Sebab yang membuat manusia hadir di muka bumi adalah
kepemimpinan; kekhalifahan.”
“Maksudmu bagaimana? Jadi kita hadir
dari mana jika bukan peristiwa ‘buah surga’ yang menjadi sebab utama?” Kecut
ganti mengejar.
“Kita hadir karena kepemimpinan.
Dulu Allah menawarkan gunung dan lautan. Tapi di antara mereka tak ada yang
sanggup untuk mengemban amanah itu. Tapi malah bumi kemlinthi. Sok-sok
bisa mengatur bumi dengan kekuasaan. Maka jadilah Adam, jadilah peradaban
manusia. Begitu mulanya. Kita perlu jernih memandang itu.”
“Ya.. ya. Lalu, selain pembunuhan.
Menurutmu akar konflik manusia juga kepemimpinan?”
“Loh, ya benar sekali. Sanggahan
malaikat agar Allah SWT. Tidak buru-buru membuat makhluk bernama ‘manusia’
untuk hadir di muka bumi, itu sebenarnya percikan utamanya. Pangkal dari segala
masalah.” Jelas Kemben.
“Tapi kita nggak mengamini itu
sebagai tragedi peradaban dong, kan Allah maha mengetahui.” Bantah Kecut.
“Yang membuatku tidak mengamini itu,
ketika pola-pola kekuasaan jadi keliru. Salah niat, salah sasaran, salah
tujuan, salah haluan, salah basis pemikiran. Wajar saja, bumi dirusak oleh
sekelompok orang yang menyebut diri mereka ‘pemimpin’.”
