Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Salah satu pinjaman daya dari Allah SWT. Kepada manusia adalah, Allah memberi kebebasan pada manusia untuk mengkreatifi apapun yang mereka kehendaki. Besi yang berat mampu melayang disebut pesawat, logam-logam yang mulanya tenggelam disulap jadi kapal, kapas-kapas putih disulap jadi berbagai fashion, data-data kertas disulap jadi chip mikro dalam smartphone.
Begitu banyak anugerah Allah pada
manusia. Sehingga potensi mereka sejatinya tidak terbatas pada itu-itu saja.
Apa yang dimaksud itu-itu saja? Jika masyarakat dusun memandang profesi sebatas
jadi polisi, jadi dokter, tentara, PNS, atau “pejabat”. Ini pandangan yang
sudah kuno dan perlu ditinggalkan. Sebab sekarang jauh lebih luas lagi
variabelnya. Menjadi YouTuber, content creator, software engineering, AI
consultant—dan seterusnya. Pos-pos itu masih terbuka untuk dimasuki.
Kalau ndak mau terlalu modern, kita
bisa mengkreatifi kearifan lokal. Kalau nyebut “petani” masih sungkan, maka
tambahi saja dengan istilah “milenial”, jadi “petani milenial”. Itu lebih keren
dan cukup elegan. Kalau kata “peternak” dirasa cukup udik, tambahi saja yang
berbau techno-techno; techno-farm, eco-farm. Tapi jangan sebatas sebutan ya,
harus benar-benar sesuai esensinya.
Seperti kata Kecut waktu itu, ia
heran kok ada yang sampai jual sawah untuk sekadar jadi kepala desa. “Kalau
jadi kepala desa apa wajibnya jual sawah ya?”
Dengan mata yang masih riyep-riyep
Sartolo menanggapi, “ya tidak. Kalau uangnya banyak, sah saja ndak usah.
Mereka yang jual sawah untuk modal itu, memang keliru memaknai apa sebenernya
pejabat itu.”
“Kalau modal, berarti mau dagang,
kan?” Tanya Kecut.
“Ya itu maksudnya. Jadi sebenarnya
pejabat ini apa? Kalau posisi itu diartikan sebagai pengabdian ke masyarakat,
artinya tak perlu susah-susah untuk ngemis suara dengan nyogok. Tak perlu
jual-jual aset untuk bondho, tak perlu lah hutang segala rupa. Kalau
logikanya seperti itu, berarti menjabat itu profesi seperti halnya dagang.
Modal di awal, pas sudah berjalan proses dagangnya, harus punya cara bagaimana
untuk mengembalikan modal.”
Kecut hanya geleng-geleng. Warung
Mbok Sunarti makin sesak saja dengan obrolan-obrolan yang kian serius.
“Kalau pengabdian yang kau sebut
tadi?” Kejar Kecut.
“Pengabdian? Pengabdian ya ngabdi,
ngawula, menghamba. Dalam hal ini, mengabdikan diri pada masyarakat artinya
yang dipikir bukan untung-ruginya, sebab jelas ruginya, hitungan untungnya
bukan terbatas pada uang. Tapi dedikasi, kontribusi, loyalitas, kerelaan diri
untuk mengulurkan tangan sesama. Sayangnya, hal ini akan jadi omong kosong
kalau diejahwentahkan sekarang. Pejabat dijadikan potensi lahan basah untuk
berdagang. Lurah desa misalnya tadi, ia mau berdagang dengan meminjam modal
pada ‘suara rakyat’, nanti akan membalikan modal dari program-program yang
semestinya untuk rakyat juga. Tapi...” Sartolo berdehem sejenak, “tapi masuk
kantong sendiri”.
“Nah, jadi kalau kamu mau jadi pejabat, itu mau dagang, atau mau apa?” Pungkas Kecut.
