Jagongan Rakyat 28 | Kentut Hati

Jagongan Rakyat 28 | Kentut Hati


Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono 


Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 28 | Kentut Hati Rakyat yang sering nggunem laku pemerintah lama-lama jadi takut sendiri. Takut, kok waktu hidupnya malah habis untuk ngrasani mereka. Segala keburukannya dicari, segala kebobrokannya diumbar tanpa henti. Ini juga yang dirasakan oleh Kemben saat ini. Menurut kepercayaannya, rasan-rasan merupakan proyeksi hidup yang amat rendahan. Itu sikap kepengecutan yang nyata.

Pendekar ialah mereka yang berhadapan face to face. Tapi kalau konteksnya di belakang atau membelakangi, itu namanya ndak gentle. Ajrih. Mental kerupuk. Lincak Mbok Sunarti kali ini absen dari celutak mulut Kemben. Ia takut betul untuk membicarakan orang lain, dalam hal ini pemerintah mereka.

Ngeri juga. Dalam literatur yang diketahui Kemben, taraf membicarakan keburukan orang lain dianalogikan seperti memakan bangkai saudaranya. Alangkah menjijikkan aktivitas tersebut. Alangkah kejinya aktivitas itu. Sehingga kali ini, ia memilih diam di tengah kecamuk saling lempar opini teman-temannya.

Lain Dumbis yang masih nyerocos saja seperti biasa.

“Kita perlu terus menyuarakan kebenaran-kebenaran, sekalipun itu sukar didengar! Titik dasar obrolan kita harus berporos pada antitesa-antitesa kebijakan yang merugikan! Pokoknya terus lantang saja untuk disuarakan lewat forum dan majelis apapun!” Semangat Dumbis masih membuncah. Diskusi-diskusi kecil di warung itu terus berlanjut saban pertemuan.

Dengan wajah datar, Kemben menolak dengan halus. Ia tak mau terlibat lagi dengan pembicaraan semacam itu. Baginya, itu teramat menjijikkan. Ia ingin bersih dari aktivitas rasan-rasan.

Sekian waktu hanya Dumbis yang mendominasi omongan. Barulah Kemben angkat bicara, “aku tak mau berbicara seperti itu lagi. Dosa besar!”

            Belum juga menutup mulut, Banim dengan entengnya berseloroh. “Ya diam saja kalau begitu. Ada ketidakadilan diam, ada kesewenang-wenangan diam, ada tindak pidana diam, ada yang keliru diam saja. Jika yang jadi peganganmu diam adalah emas, maaf, Mben. Kali ini kamu keliru.”

Dumbis menyambung, “Ya, Mben. Betul itu. Kamu ndak bisa jadi orang bersih sepenuhnya, kita terus dan selalu bengkok, utamanya di hadapan Allah. Saban hari kita meminta petunjuk agar diluruskan jalan. Dan apa yang kita lakukan tiap waktu ini; membicarakan pemerintah, rasan-rasan presiden. Itu namanya kentut hati, jadi wajar saja. Orang kalau dibekap denga ketidaknyamanan hasil dari keputusan yang sembrono, organ utama yang merespon adalah ucapan. Meski toh sumber paling awal adalah dasar hati.”

Kemben bingung, dan hanya memandang Dumbis dan Banim bergantian.

“Kentut hati, Mben. Kentut hati itu adalah percikan-percikan buruk yang keluar saat kamu menerima informasi dari luar. Kalau ada anak yang menjitak kepala bapaknya, apa respon hatimu kalau tidak ucapan ‘jancok! Bocah goblok!’ ? Nah, ada kalanya kentut-kentut itu perlu dikeluarkan dalam hati kita, dari pikiran kita. Sebab yang jadi titik persoalan kita ini imbasnya luar biasa besar loh, ya.” Banim melanjut penjelasan.

Makin bingung pula Kemben dengan penjelasan itu. Hatinya jadi makin gelisah.

“Aku setuju kata Banim. Kalau kita nitip uang, lalu tetiba uangnya ditilap. Kita diapusi. Sebelum tangan bertindak, hati kita akan bunyi duluan. Betul tidak?” Sahut Dumbis. “Mben, apa kata yang pertama muncul?”

“Ooooh! Celeng!”

“Nah, kentut hati.” Tukas Banim.

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin