Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 30 | Semua Bergembira | Kalau terus-terusan fokus pada penderitaan, hal-hal yang buruk, kebobrokan, ketimpangan—maka seseorang akan sukar memandang kebaikan yang lain. Maka sebisa-bisa mungkin, bahkan harus memililiki sudut pandang yang balance.
Kesukaran tetap dihadapi, namun
sembari memandang kebaikan yang lain. Jangan sampai hati dan pikiran ini
dipenuhi kesumpekan-kesumpekan seolah dunia hanya tempatnya derita. Padahal
semuanya berimbang, saling berpasang-pasang; ada siang-malam, ada suka-duka,
ada panjang-pendek, tak terkecuali baik-buruk.
Jika kehidupan terasa sumpek sebab
banyak corak buruknya. Coba geser pandangan. Apa hal baik yang bisa ditangkap?
Kemben termangu-mangu. Ia merasa
semua nihilis. Negaranya tak bakal pernah sejahtera, rakyatnya senantiasa
diwarnai kemelaratan sampai kapan pun jika begini jadinya. Pemimpin siapapun
tak bakal mengubah keadaan. Kondisi kronis jelas tertera di negaranya;
kegagalan mega proyek, penyunatan dana besar-besar, tipu-menipu jadi ajang headline
kebangsaan. Rakyat terbebani hutang menggunung, pajak mencekik, harga
pangan melambung. Semuanya nampak kacau, dan negara ini sedang menuju catastrophic!
“Kau kenapa murung gitu wajahmu,
Mben?” Tanya Sartolo.
“Ah, kok aku merasa pesimis
lama-lama kalau begini. Sekian kali mencoblos, sekian kali kita tak pernah
merasakan kemenangan. Rakyat tak pernah menang. Yang dipilih yang menang. Kita
cuma berakhir jadi jongos. “
Sartolo senyum saja. Lalu berucap, “wah-wah,
nanti dulu. Jangan mikir yang enggak-enggak. Kita harus mampu berpikir meluas,
Mben. Jangan yang dipikir jeleknya saja. Aku tahu betapa gusarnya dirimu
melihat semua ini. Tak tenang rasanya. Tapi, kamu bisa mengambil sudut pandang
lain bahwa etos kerja kita sebagai rakyat biasa, itu sangat-sangat luar biasa.”
“Kok luar biasa gimana, Tol?” Kecut
yang menyahut.
“Wong tiap hari susah kok luar
biasa, Tol?” Banim membuntut.
“Sekarang bayangkan. Sudah berapa
banyak pemimpin kita yang remuk-remuk? Tapi kita tetap ajeg, tak pernah hancur
lebur, masih cengengesan saban waktu, masih bisa menikmati cecapan kopi
tiap hari, masih bisa membagi kesenangan-kesenangan sederhana. Harusnya, kalau
memang pemimpin kita zalim. Kita sudah hancur sejak dulu, sudah penyet dilindas
oleh kerakusan-kerakusan. Tapi buktinya? Hutang negara kita ini sekitar gunung
ditumpuk lima kali. Lah, kita masih bisa ketawa. Siapa lagi yang bisa melakukan
akrobatik mentalitas semacam ini kalau tidak bangsa kita?”
“Betul kau, Tol. Sepakat denganmu.”
Dumbis mengamini.
Kemben agak merekah senyumnya. Ia
merasa masih ada nafas-nafas perjuangan yang harus ditapakkan lagi dan lagi.
“Ini artinya, kita harus berbahagia
juga? Sebab dengan keadaan ini kita jadi banyak belajar, kan?” Kecut lagi.
“Tak salah kau, Cut. Begitulah
sekiranya sikap kita. Dalam medan pertempuran seburuk apapun, kita mencoba
memiliterkan diri dengan perjuangan tanpa henti. Sebab itulah citramu. Itulah
harkat sejati kenapa manusia—kita semua—hadir di muka bumi ini.”
“Tak hanya jadi khalifah?”
Tanya dumbis.
