Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 29 | Indefinite Game Bernama Negara | Mekanisme dunia terbagi menjadi dua poros. Ada yang terbatas--finite. Ada yang tidak berbatas--indefinite. Yang terbatas maksudnya, ada laku-laku kehidupan yang dikerjakan namun memiliki ending di belakangnya. Misalnya seseorang menempuh kuliah S1. Logika paling umum menangkap bahwa hal itu akan selesai dalam empat tahun. Seseorang belajar naik motor, akan ada fase belajar dan menjadi ahli. Batas belajar adalah kalau ia sudah mampu bermanuver di jalanan. Sehingga ia sudah tidak masuk fase belajar lagi, tapi sudah ahli. Misal lagi, orang yang memutuskan kerja di sebuah perusahaan. Tak mungkin seluruh hidupnya di sana, bila perlu harus memberi jangka waktu sampai kapan ia harus membuntut pada korporasi.
Itu hal yang berbatas.
Namun untuk yang tak berbatas,
misalnya seseorang memulai untuk berkeluarga. Tak mungkin sebuah pasangan
mewanti-wanti untuk memberi jenjang waktu kapan mereka harus berpisah. Tentunya
harus seumur hidup. Termasuk seseorang merasa bodoh, ini keharusan. Sebab
merasa pintar, itu sudah masuk ke rana finite. Sedangkan pembelajaran
dalam hidup sifatnya indefinite. Kapan pun seseorang harus belajar guna
mengikis kerak-kerak kebodohan dalam diri. Ia harus sanggup merevisi tindak
tanduknya dari waktu ke waktu supaya menjadi manusia yang lebih berkualitas
ketimbang sebelumnya.
Topik ini berlanjut di obrolan
Kecut, Dumbis, dan Sartolo. Mereka membahas apa saja yang terbatas dan tidak
terbatas.
Pada permulaan obrolan, Dumbis sudah
beropini, “menurutku, yang tak terbatas itu negara.”
“Kok bisa?” Sahut Kecut.
“Sebab tak mungkin negara berdiri
untuk kemudian hari akan dihancurkan. Tak ada sistem tata kelola negara yang
berjenjang kapan harus diakhiri. Ia terus-menerus harus ada, dipertahankan agar
eksitensi masyarakatnya tetap ada. Selain itu, biar ada pencapaian-pencapaian
baik dari waktu ke waktu. Dan ia tak terbatas. Sampai kapan pun, jangan biarkan
negara hancur.” Jelas Dumbis.
“Nah, kalau yang memimpin negara?”
Sembari mengernyitkan dahi, Sartolo bertanya.
“K-kalau yang mimpin itu
sangat-sangat terbatas, finite banget pokoknya. Tapi sayang, tak banyak
yang tahu bedanya. Bahkan enggan mengaplikasikan pondasi pemikiran ini terhadap
hidupnya. Dikiranya semua akan abadi sehingga mati-matian dipertahankan, betul?”
Jawab Dumbis.
“Kalau bisa memimpin seumur hidup,
kenapa tidak?” Tanya Kecut polos.
“Tak bisa. Itu hanya imaji orang
tolol. Bahkan orang yang dikata tolol sekalipun tak bakal berpikir seperti itu.
Itu taraf ketololan yang melebihi kata tolol itu sendiri.” Sartolo menjawab
sekenanya.
