Guru Dan Kondisi Perpustakaan Dari Kacamata Saya | Esai

Guru Dan Kondisi Perpustakaan Dari Kacamata Saya | Esai

Oleh: Akhmad Gunawan Wibisono


Lingkarkiri.or.idGuru Dan Kondisi Perpustakaan Dari Kacamata Saya | Esai | Untuk mengawali tulisan yang serba nglantur ini saya ingin menekankan di awal bahwa tulisan ini sekadar pemikiran nakal dari sang penulis yang kebetulan, secara tidak langsung bersentuhan dengan pendidikan, menjadi praktisi: guru honorer. Betapapun seandainya tulisan ini bisa membuka horison baru dalam berpikir, khusunya di ranah pendidikan, maka tak lain itu merupakan refleksi kilat dari kondisi pendidikan yang ada sekarang. Sebab, katanya pendidikan merupakan sektor penting atas keberlangsungan peradaban. Pendek kata, pendidikan merupakan aspek utama yang harus dipertimbangan manakala sebuah bangsa ingin tetap survive and grow up kepada taraf masyarakat yang baik dan senantiasa berbenah.

Penulis mulai dari judul, “Guru Dan Kondisi Perpustakaan Dari Kacamata Saya”. Hanya saja, hal demikian menjadi metafora bahwa melihat realita pendidikan, khususnya di kalangan akar rumput, orang-orang bawah, sekolah swasta pelosok-pelosok desa harus memakai kacamata sebab memang, dalam upaya membuat upaya otokritik dibutuhkan pandangan yang sejelas-jelasnya: mendetil. Oleh karenanya, izinkan penulis memulai dari bagian yang paling umum.

Kualitas Guru

Sudah barang tentu bahwa person yang langsung bersinggungan dengan pelajar adalah guru. Sebab merekalah komponen pendidikan yang utama dan par exlellence. Sebab tonggak awal dari pendidikan adalah, “siapa yang dapat menyambung estafet keilmuan.” Utamanya sebagai person yang siap untuk transferring knowledge pada pelajar.

Jika boleh jujur, sebenarnya guru-guru di sekolah kita masih kurang berkompeten untuk mengajar siswa di kelas. Sebab hemat penulis, kebanyakan dari mereka masih belum bisa menunjukkan sikap sebagai pendidik. Beberapa sikap yang dinilai kurang oleh penulis adalah.

1.) Tidak Hobi Membaca

Ini titik paling krusial. Ilmu pengetahuan ditularkan dalam bentuk tulisan. Dan orang yang ingin memperoleh pengetahuan, maka tak ada acara lain kecuali membaca. Sayangnya, guru-guru kita rata-rata tak kenal dengan buku. mereka hanya mengenal LKS yang amat tipis dan kurang layak dijadikan pegangan belajar itu. Maka, tidak mengherankan jika dari tahun ke tahun, lembaga survei literasi semisal PISA selalu menempatkan Indonesia dalam posisi anjlok dalam tingkat literasinya. Ternyata bukan hanya siswa yang tidak hobi membaca, namun guru-gurunya.  

Proses membaca merupakan upaya untuk keep and touch dengan ilmu. Adapun hal ini agaknya perlu diwajibkan bagi setiap guru agar membaca buku paling tidak sebulan minimal menghabiskan 2-3 buku. Karena dengan membaca, pikiran seseorang dapat lebih terbuka dengan segala hal-hal baru. Kemampuan nalar yang baik nan logis akan menghadapkan pembaca pada kondisi yang realistis dan fixed dengan lingkungan. Membaca dapat membentuk pola pikir yang sehat dan menyadarkan individu untuk siap dengan keterbukaan-keterbukaan.

Di era saat ini, akses buku agaknya sangat mudah sekali didapatkan. Jika tidak mampu untuk membeli buku fisik. Maka, hendaknya para guru mengetahui secara sadar bahwa HP yang mereka gunakan pun bisa digunakan untuk mengakses buku, baik itu dengan meng-install aplikasi semacam Ipusnas, dan sebagainya. Atau, jika memang tak terbiasa membaca buku fisik, alternaif seperti e-book amat mudah didapatkan. 

Di sinilah masalahnya. Para guru saat ini tak betah berlama-lama untuk membaca buku. Imbasnya, para siswa yang mereka ajak, “ayo anak-anak baca buku” akan terdengar omong kosong sebab yang memerintahkan atas itu ternyata tidak suka membaca. Mental penyuruh bagi guru harusnya perlu dikurangi dan beranjak menjadi mental pengajak. 

2.) Metode Ceramah

Menyangkut metode belajar, merupakan salah satu unsur penting untuk mengemas strategi ajar agar menarik. Jujur saja, pola ajar guru yang monoton dan tidak variatif justru akan membawa sengsara bagi siswa. Bayangkan, Anda duduk di kelas sejak pagi sampai sore, dan ternyata Anda cuma mendengarkan ceramah-ceramah dari guru, apakah tidak bosan? Tentu saja bosan sekali. Pasalnya, masih banyak guru-guru yang menerapkan pola primitif seperti itu. Imbasnya, para siswa tidak tertarik memperdalam ilmu sebab metode yang dibawa selalu sama: ceramah.

Meminjam apa yang diistilahkan oleh Paulo Freire, bahwa siswa bukanlah celengan-celengan yang digunakan untuk menampung pengetahuan guru selaku nasabah. Metode ceramah agaknya sudah tidak relevan--dalam beberapa kondisi--lagi digunakan sebab hal itu menjadikan pola belajar siswa menjadi teacher-centered. Seharusnya, pendidikan mengajak siswa untuk bisa merefleksikan diri mereka, membebaskan pikirannya untuk menanyakan, skeptis terhadap hal-hal yang belum mereka ketahui, bukan justru mencekoki mereka dengan argumentasi-argumentasi yang membuat otak mereka justru merontah sebab tak pernah mempunyai kesempatan untuk menyampaikan uneg-uneg-nya sendiri. Sikap dogmatis demikian amat mengganggu sebab intellectual thinker siswa lambat laun semakin tereduksi dan sulit meningkat.

Imbas dari metode ini, siswa jadi kurang aktif, mereka malas sebab apa yang dibicarakan oleh guru hanya seolah-olah copy-paste saja. Padahal, pola belajar yang baik adalah dapat menumbuhkan jiwa-jiwa pada diri siswa untuk cakap dalam mengemukakan pendapatnya masing-masing. Ini yang harus disadari sepenuhnya oleh guru. Mereka harus update dengan metode-metode baru dan fresh agar mampu menstimulus para siswa untuk mengeksplor akal pikiran mereka.

3.) Kompetensi yang “Blur”

Sejak 2019 penulis bergabung dalam lembaga pendidikan. Ada satu hal yang disoroti oleh penulis yakni kompetensi guru yang tidak jelas (blur). Maksudnya, beberapa kali penulis menemui guru-guru yang tidak berkompeten harus masuk ke kelas. Katakanlah seorang guru alumni jurusan agama, ia dipaksa untuk merangkap jam dengan pelajaran lintas agama seperti PKN, Informatika, dan lainnya. Tentu saja hal itu amat rancu, sebab pekerjaan yang tidak diserahkan pada ahlinya hanya tinggal menunggu kehancurannya. Faktanya itulah yang terjadi, para guru yang tidak seharusnya mengampu pelajaran yang dikuasai harus cross major dengan mengampu pelajaran lain.

Kompetensi guru juga sering diabaikan. Kita sering mengira bahwa semua guru adalah public speaker yang baik, namun ternyata tidak semuanya. Masih ada beberapa guru yang benar-benar tidak siap untuk berhadapan di muka umum: dalam hal ini untuk menatap siswa. Mereka masih gemetar, sesekali membuang muka, dan parahnya lagi tidak bisa menguasai kelas sehingga kelas dalam keadaan ramai, suara guru tidak terdengar, gaya story telling-nya buruk.

Kondisi Perpustakaan

Betapapun, fasilitas pendidikan digunakan untuk mendukung proses belajar agar berjalan dengan baik dan sukses untuk mencapai tujuan bersama yakni menciptakan generasi yang cakap untuk menghadapi zaman yang semakin pesat berubah. Namun sayangnya tidak begitu. Masih banyak kondisi kelas yang tak layak dipakai untuk belajar. Kondisi gerah, minim pencahayaan, tembok, kursi yang banyak coretan tangan jail siswa agaknya menganggu pemandangan sebab menimbulkan view yang tidak elok.

Kadangkala hanya sekadar kipas angin untuk mengusir kegerahan pun jarang ditemui di kelas-kelas. Akibatnya kondisi kelas tidak nyaman: siswa sana-sini mengipas dengan tangan mereka. Dan, proses belajar berjalan alot sebab kondisi ruangan yang amat meresahkan tersebut. Di sinilah pentingnya kordinasi yang baik antar organisator sekolah mulai dari jajaran, komite, dan para guru untuk bersatu padu mengupayakan sarana terbaik baik siswa. Bukan justru membangun kelas asal jadi saja. Selain boros anggaran, di satu sisi kelas tersebut tidak layak ditempati dan berujung pada downgrade-nya peserta didik.

Tidak hanya pemenuhan fasilitas kelas. Fasilitas penting seperti perpustakaan juga sebaiknya diupayakan penuh, sebab realitanya masih banyak sekolah-sekolah yang tidak mempedulikan sumber ilmu ini. Beberapa sekolah malahan fokus utama membangun hal-hal yang sebenarnya kurang penting seperti menghias taman, membuat papan reklame besar, mengecat lapangan, dsb. Sebaiknya ini menjadi kesadaran bersama bagi siapapun yang memiliki otoritas untuk ikut andil membangun fasilitas sekolah, maka hendaknya mementingkan perpustakaan sebagai sumber akses belajar siswa dengan buku-buku yang mereka minati.

Sekolah mestinya tahu betul bahwa fungsi perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku. Lebih dari itu, perpustakaan dapat membangun gejolak pemikiran, ide-ide yang deras mengalir dari ruangan tersebut. Dari pengalaman penulis, beberapa sekolah sama sekali tak memaksimalkan fungsi perpustakaan. Barangkali mereka beralasan, “buat apa perpustakaan kalau tak ada pengunjung?” atau adanya perpustakaan beralih fungsi sekadar untuk lolos syarat akreditasi.

Jika berkaca pada peradaban besar, kita mengenal satu nama perpustakaan Alexandria yang megah itu. Hingga kini, perpustakaan yang konon terbakar itu disebut-sebut sebagai masterpiece lahirnya peradaban dunia. Ihwal perpustakaan ini, harus menjadi sentra pemikiran bagi otoritas sekolah untuk memperhatikan peranannya bagi keberlangsungan pendidikan. Meski jarang siswa (juga guru) yang berminat membaca, bukan berarti perpustakaan harus ditiadakan sama sekali. Melainkan, memberi kesempatan bagi mereka untuk menyadarkan bahwa adanya perpustakaan harus difungsikan semaksimal mungkin. Perpustakaan merupakan laboratorium pelajar, dari ruangan tersebut semestinya terlahir benih-benih gagasan besar yang di kemudian hari diharapkan mampu disemai, ditanam lalu diambil buahnya. Lingkungan pendidikan sudah sepantasnya memiliki storage knowledge sebab di situlah kekuatan pendidikan dapat dimunculkan. 

Tags

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin