Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 17 | Budaya Bungkus | Rakyat dusun adalah orang yang mampu menghibur diri. Di tengah impitan apapun, mereka menampakkan budaya saling bahu membahu. Jika ada tetangga susah, mereka datang membantu. Jika ada tetangga yang mencapai keberhasilan tertentu, mereka turut merayakan. Suka duka mereka masih diwarnai tawa, bukan budaya saling tendang dan sikut.
Dalam budaya lain yang diisi oleh
milisi-milisi pemegang kuasa, saling sikut adalah kewajiban. Popularitas adalah
harga mati. Loyalitas artinya penjilatan. Tamak adalah sikap utama. Manipulasi
adalah skill dasar. Entah budaya itu berawal dan bermula dari mana. Sebab
sebenarnya mereka juga mulanya rakyat biasa, namun karena silau oleh titel,
walhasil jadi ngawur. Nalarnya hilang, nuraninya luluh lantak. Nasehat apapun
serasa angin lalu. Jenis pelanggaran bahkan urusan apapun maunya disogok saja.
“Budaya kita adalah budaya kelas
tinggi. Tapi sayangnya, narasi kita tak pernah sampai pada narasi budaya
modern.” Sartolo berkata pada Banim.
“Maksudmu, kamu ingin mengartikan
budaya modern adalah budaya kelas bawah?” Sahut Banim.
“Ya, seperti itu adanya. Modernisme
hanyalah bungkus saja. Ia seperti kemasan snack yang rapi luarnya, cantik,
memikat. Tapi dalamnya kopong, isinya nir-gizi, jika dikonsumsi terlalu banyak
akan menyebabkan penyakit kronis.”
“Apa yang kau sebut penyakit kronis
itu?” Kopi yang dituang oleh Banim belum dicecap demi mendengar penjelasan
Sartolo.
“Penyakit kronis? Kanker
materialistik. Polio hedonisme. Sifilis kapitalistik. Tumor dekadensi moral.
HIV kepelitan ekonomi.”
“Lalu, apa yang kamu bisa tanggapi
melihat itu?”
“Ya cuma budaya kita. Budaya
kerakyatan ini jangan sampai digerus oleh budaya semacam itu. Lokalitas
kebudayaan kita adalah saling peduli, bukan saling mengunggulkan diri. Budaya
kita adalah tentang bagaimana ketidaktegaan menjadi poros utama dalam memandang
realitas hidup. Bukan budaya menekan, merepresi yang lemah. Budaya mereka itu,
budaya represif. Nalarnya yang main cuma ‘aku kuat, kau lemah’. Framing menang-kalahnya
masih sangat kental sekali. Haha. Mereka tak pernah berpikir ke arah, apa
nikmatnya mengalahkan yang lemah dengan posisinya yang tinggi? Apa kamu tega
lulusan kuliah tapi lomba dengan anak TK? Lucu! Lucu! Sangat lucu bukan?”
Ngotot Sartolo, meluap-luap ucapannya.
