Jagongan Rakyat 18 | Demokrasi Sesungguhnya, Apa?

Jagongan Rakyat 18 | Demokrasi Sesungguhnya, Apa?


 Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono


Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 18 | Demokrasi Sesungguhnya, Apa? | Sekumpulan orang-orang ini, dari hari ke hari tak pernah berbicara yang receh-receh. Topiknya kian berat saja. Entahlah sebenarya apa yang dimaui. Sebab pada titik dasar, hidup ini sudah rumit, harusnya jangan ditambah lagi dengan kerumitan-kerumitan semacam itu.

Bicara yang biasa-biasa saja.

Bicara dengan topik yang normal-normal saja.

Bicara yang justru akan meringankan hidup.

Bicara yang tak butuh menalar tingkat tinggi.

Bicara yang tak membuat seseorang tiba-tiba meluap di tengah pembicaraan.

Opini itu disampaikan oleh Kemben sebenarnya. Ia mendengar sedikit komentar orang-orang sekitar, utamanya para pembeli di warung. Sekumpulan orang itu (Sartolo CS dan kawan-kawan) dianggap sebagai representasi orang yang halu. Yang bicara muluk hanya supaya terlihat sangar saja. Namun pada dasarnya hidup mereka tiada berubah. Tiada pencapaian yang signifikan setelah bicara hal-hal yang rumit.

“Menurutmu bagaimana?” Kemben bertanya.

“Apanya yang bagaimana lagi?” Sahut Kecut.

“Ya kita ini. Kita disebut banyak orang sebagai sekumpulan orang halu. Halu sebab sejauh ini yang kita bicarakan hanyalah seputar utopia-utopia belaka. Di mana dunia ideal itu tak akan terwujud, sebab mentok hanya dalam isi kepala dan mulut saja.”

“Oh, ya biarkan. Kamu jangan kesal. Justru itu wujud demokrasi sebenarnya.” Imbuh Kecut. “Begini, Mben. Yang kita pahami dari asas kenegaraan kita adalah demokrasi. Demos dan kratos kalau dikumpulkan maknanya akan menjadi, segala sesuatunya dari rakyat. Rakyat yang memiliki kuasa, rakyat yang bebas berekspresi. Yang dilakukan orang lain pada kita adalah bentuk demokrasi. Dan itu sah-sah saja. Dengan begitu, tak ada semacam dictatoral situasion. Semua orang boleh menunjuk hidung orang yang lain. Akan berbeda jika sikap diktatoral itu diadakan. Maka yang bisa nunjuk hidung hanyalah yang punya tahta. Selain itu tak boleh, malah yang ada bisa dihukum. Nah, jadi pertanyaan dariku ini. Apa benar ini negara sudah demokratis? Coba pikirkan.”

“Ya—ya sudah, sih.” Ragu-ragu Kemben menjawab.

“Kok kamu ragu?” Tanya Kecut.

Keraguan Kemben terletak pada kejanggalan-kejanggalan yang ia temui. Dalam logika demokratis, posisi ekskutif, legislatif, dan yudikatif harusnya mempunyai daulat untuk menjaga stabilitas kepemimpinan. Jadi, tidak ada yang merasa lebih atau paling kuat. Sebab tiga posisi itu punya pos-pos masing di mana harus bergerak dan berpijak. Tapi apakah tiga lembaga tadi cukup representatif untuk saling menjaga keseimbangan? Sayangnya tidak. Sayangnya justru malah bukan keseimbangan. Yang ada hanya perlombaan untuk menjaga kekuasaan, menyunat konstitusi, memanipulasi data. Titik imbang mereka ada pada bagaimana kekuasaan bisa balance agar tidak “cepat runtuh”.

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin