Jagongan Rakyat 19 | Perkaranya Sepele Jadi Sepuluh

Jagongan Rakyat 19 | Perkaranya Sepele Jadi Sepuluh

Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono 


Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 19 | Perkaranya Sepele Jadi Sepuluh | Dumbis pada satu kesempatan memasan kopi dengan porsi yang tidak biasa. Ia memesan kopi dalam segelas besar, isinya bisa 5x lipat cangkir kecil. Sontak temannya pun mengejek, bahwa selain itu perilaku rakus, itu juga wujud ketidaktahuan diri perihal batas.

“Kamu itu nggragas, Mbis!” Ejek Kecut.

“Ya, kamu kemaruk!” Seru Sartolo.

“Kamu ndak ngerti aturan!” Sahut Kemben.

“Mbis, Dumbis. Kamu ini kelewatan batas.” Pungkas Banim.

Mendengar ejekan-ejekan itu Dumbis bergeming. Justru ia menyeruput kopinya pelan-pelan dengan suara decak bibir yang tak enak didengar.

Slrrrrppppp... aahh..

“Kalian sudah pesan kopi?” Tanya Dumbis.

Semuanya serempak menggeleng. Lau Dumbis mengambil empat cangkir kosong, diisinya dengan kopi darinya. Semua dibagi rata, hingga dirinya pun mendapat porsi yang ukurannya pas secangkir meski dalam wadah yang lebih besar.

“Nah, sekarang kalian sudah punya secangkir kopi. Aku yang berbagi untuk kalian. Apa kalian masih mau mengejekku lagi?”

“Y-ya, tidak lah.. mana mungkin kami mengejek untuk sesuatu yang dibagikan untuk kami. Kami menerima dengan lapang dada.” Jawab Sartolo.

“Haha. Munafik itu, Tol. Munafik!”

“Kok munafik?”

“Sebab kamu sebenarnya bukan mengejek, mengkritikku pada tataran objektif. Secara subjektif kenapa kamu sekalian tadi mengejekku, hanya karena kalian tidak kebagian ‘jatah’. Iya, kan?” Dumbis sangat sumringah mengucap ini. “Tapi hal lain akan nampak, ketika kalian kebagian, kalian pun mendadak lupa. Lupa bahwa apa yang kubagikan tadi adalah sumber yang kalian ejek sebelumnya. Inilah simulasi kehidupan kita. Simulasi tentang pemabagian ‘kue’. Kita mendadak bisu kalau sudah disumpal mulutnya. Lidah kita mendadak kelu padahal sebelumnya paling lincah berkata-kata pedas. Pikiran kita mendadak tertahan oleh secuil barang yang menggoda sesaat, tapi menghancurkan dalam rentang waktu yang lama.”

Yang lain diam saja.

Dumbis menambah lagi, “itulah akar terjadinya semuanya. Bahwa bentuk-bentuk kerakusan manusia itu potensinya ada. Hanya saja, kalau kesempatan belum datang, kita masih merasa pongah sebab seolah-olah tidak akan melakukan hal seperti itu. Lebih tepatnya bukan tidak bisa, tapi belum saja. Pada posisi inilah, sukar memposisikan diri sebagai pribadi yang ajeg. TAHU KALIAN SEMUA?!”

Dumbis yang menyalak itu membuat kaget semua orang. Kecut pun menahan Dumbis agar tidak terlalu meluapkan emosinya hanya karena segelas kopi. Tapi begitulah. Begitulah cerminan rakyat hari ini. Seringkali apa yang ditanggapi dalam ruang lingkup sosial bukan hal-hal yang sublim dan besar. Tapi sekadar hal-hal remeh-temeh. Remeh tapi harus berurusan dengan polisi, kejaksaan, pengacara, media pers, pengerahan masa. Persis seperti anak kecil yang kehilangan mainan murahan, tapi direspon sampai harus mengerahkan intelijen untuk mencarinya. 

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin