Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 20 | Jagongan Rakyat 20 | Tuhan Baru | “Aku memang tidak terlalu relijius, tapi aku percaya dan masih takut dengan Tuhan.” Ucap Banim.
“Semua
memiliki keyakinan kayak gitu, Nim. Biasa saja kau menanggapi.” Sahut Kecut.
Banim
menangkap satu persoalan serius dalam tubuh masyarakat hari ini. Di mana posisi
Tuhan kerap dikesampingkan. Kerap dianggap kambing hitam, atau bahkan menjadi
penolong dengan catatan “kalau mepet” saja. Di luar itu, Tuhan bentuknya sangat
variatif sekali.
Dengan
tatapan lurus, Banim menyahut lagi. “Pada faktanya, Tuhan bukan diisi oleh dzat
yang sebagaimana mestinya.”
“Maksudmu?”
Kecut merasa belum jelas.
“Ya. Maksudku, Tuhan adalah dzat yang
kudu disembah, diagungkan, dipatuhi segala kebajikannya. Sebab dengan nalar
ketuhanan itulah seseorang bisa memiliki sikap pangerten yang mumpuni.
Sebab dari dalam, internalnya, ia disetir oleh daya untuk mengarahkan diri
sebagai manusia yang baik dan bijaksana.” Jelas Banim. “Nah, problem serius di
sini terjadi. Ketika orang sudah tidak mengenali dengan baik Tuhannya, ia akan
mencari Tuhan lagi. Atau, sesuatu untuk dituhankan baik secara sadar maupun
tidak. Ada yang menuhankan uang, jabatan, popularitas, kekuatan massa,
lobi-lobi, nasab keturunan, keangkuhan, keserakahan.. dan ah.. banyak lah
pokoknya.”
“Eh, kamu jangan asal ngomong
begitu, Nim. Tuhan itu artinya Dia yang menyelamatkan. Dia yang bisa memberi
anugerah. Dia pula yang menjaga dan merawat semesta alam. Pendek kata, sesuatu
yang disebut Tuhan ialah sumber dari segala sesuatu bermula. Dzat paling
puncak dan akar dari semua dinamika yang berwarna ini.”
“Apakah uang tidak memberi
keselamatan?” Serang Banim. “Buktinya, si anu yang jelas-jelas terkena kasus
yang efeknya merugikan negara, ia bisa selamat dengan menyogok hakim. Buktinya,
si itu yang jelas melakukan pembunuhan dan penculikan terhadap rakyat sipil
yang bersuara, toh selamat pula, kan? Konon, ia menggelontorkan sekian jumlah
uang guna menutupi kasusnya.”
Kecut bergeming.
“Lalu nasab misalnya, apakah itu
bukan Tuhan? Mereka yang mantap memampang poster dirinya di tiap perempatan
dengan mendaku diri, ‘aku anak tokoh anu.. aku adalah keturunan prabu ini..’
toh mereka sejahtera juga. Ending-nya sama, rakyat kecele dan terpukau,
maka mau saja dibodohi atas dalih keturunan dalam penentuan kapabilitas
politis. Padahal, tinjauannya haruslah sangat berbeda.”
“I-iya.. bukan itu maksudku. Memang
hal-hal seperti itu bisa berlaku sebagai Tuhan. Tapi bukan berarti itu Tuhan
sesungguhnya. Hal demikian semata hanyalah objek yang dituhankan. Kau harus
tahu bedanya itu.” Kecut tak mau kalah.
“Kenapa aku yang harus mengetahui Tuhan? Bukannya harus mereka? Mereka yang menuhankan objek selain Tuhan sejati. Hari ini pun, definisi kita menjadi kabur tentang Tuhan. Sebab dalam poros kehidupan yang lain, Tuhan dianggap tidak berdaya. Sekian juta kelaparan melanda, sekian besar kerusakan yang dibuat oleh subjek-subjek zalim. Di mana posisi Tuhan kalau tidak dioptimasi oleh uang, jabatan, politisir keadaan, dan sebagainya.” Bantah Banim.
