Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Ligkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 21 | Rakyat Sedang Tirakat | Mahsyur di kalangan masyarakat tradisionalis, Jawa misalnya, bahwa seseorang yang memiliki hajat besar haruslah menjalani serangkaian tirakat terlebih dahulu. Tirakat itu bisa berbentuk puasa tidak makan minum. Ada yang modelnya tidak berbicara sekian waktu. Ada yang tidak akan keluar siang hari. Ada yang cuma berdiam diri meditasi di kamar, kalau dulu mungkin goa-goa atau tempat keramat.
Untuk apa? Untuk latihan
pengondisian jiwa. Bahwa jiwa manusia teramat labil, ia rawan terperosok pada
harkat hidup yang rendahan. Dengan tirakat itu, seseorang berharap dirinya akan
matang. Jiwanya patrap. Pikirannya luwes. Pribadinya punya daya magis kasekten.
Sehingga omongan, keputusannya, tindakannya menepati posisi yang tak jauh
dari nilai presisi.
“Apa pemimpin kita hari ini juga
melakukan tirakat, Tol?” Dengan rasa penasaran yang tinggi, Kemben bertanya
antusias tentang itu.
Sartolo hanya mengetuk-ngetuk
dagunya, ia tak menjawab langsung pertanyaan Kemben. Namun memberi pandangan
dengan cara raja-raja dulu dalam mengambil sikap.
“Aku sih kurang tahu, daripada suudzon
ya. Mungkin sejauh yang bisa aku jawab begini. Para raja Jawa itu, kalau
mereka punya hajat besar, akan mengambil keputusan besar, mereka akan menarik
diri barang sesaat. Mereka akan menjernihkan pikiran terlebih dahulu. Mereka
akan menyaring, mengendapkan satu pemikiran untuk digodok dalam alam pertapaan.
Untuk apa? Agar keputusannya tidak blunder. Agak kebijakannya nanti benar-benar
bisa dirasakan rakyat secara umum. Bukan dirinya yang dipikirkan. Tapi
bagaimana imbasnya pada yang dipimpin.”
“T-tapi, itu butuh waktu lama loh,
Tol...”
“Tidak salah. Untuk mengambil
keputusan besar, seorang raja harus mengendapkan roso dan kaweruh-nya.
Sebab ini menyangkut citra dirinya di hadapan rakyat. Salah keputusan, tahtanya
bisa remuk, rakyatnya bisa kalang kabut. Tak cukup sekadar minta maaf. Sebab
akan membuat rakyat bisa tidak makan. Sebab akan membuat rakyat terimpit. Sebab
akan membuat rakyat mengalami tekanan atas keputusan yang tidak bijak itu. Apa
sang raja tega jika keadaan itu menimpa dirinya? Oh, tentu tidak.
Sembari menyebat rokoknya, Kemben
hanya tertegun-tegun dengan penjelasan Sartolo.
“T-tapi kalau pemimpin hari ini
bagaimana?” Kejar Kemben.
Sartolo mendongak, memandangi
langit-langit lalu menangkupkan kedua kelopak matanya.
“Kalau sekarang kebalik. Rakyat yang
harus tirakat. Rakyat yang harus menanggung sekian penderitaan untuk menjaga
tahta seseorang agar tidak hancur. Sebab, nyatanya tak ada pemimpin yang mau
tirakat. Sudah berapa kasus proyek gagal? Sudah berapa kasus program tak sesuai
sasaran? Sudah berapa kasus pimpinan yang jadi pengecut? Sudah berapa kasus
pimpinan yang berlaku konyol, ucapannya tidak mencerminkan nilai? Tidak
menghitung, bukan. Itu karena mereka tak punya nalar kejiwaan yang cukup
matang. Dikiranya semua akan selesai hanya dengan uang, hanya terbatas pada
angka-angka keduniaan. Padahal hidup ini kompleksitasnya jauh melebihi angka
itu sendiri.”
“Kalau rakyat yang tirakat artinya?”
Kemben masih bertanya.
“Itu artinya siap-siap akan ada kekuatan besar atas nama rakyat. Entah apa wujudnya. Tapi seseorang yang sudah terlatih hidup menderita, sudah alang kepalang hidupnya ditekan realita, jiwanya akan kuat. Nalarnya akan matang. Jiwa dan keteguhannya akan mantap. Dan, sungguh jangan main-main dengan orang-orang yang seperti itu.”
