Jagongan Rakyat 22 | Masyarakat Bola dan Batu

Jagongan Rakyat 22 | Masyarakat Bola dan Batu


 Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono 


Ditendang ke sana.

Ditendang ke sini.

Digiring ke sana.

Dilempar masuk kemari.

Disundul ke atas.

90 menit adalah fase normal sepak bola. Jika kedua belah tim tak kunjung memasukkan bola, akan terjadi extra time 15 menit kali dua. Jika skor masih sama saja, akan berujung pada adu penalti. Di fase penalti itulah tak mungkin hasilnya imbang. Sebab harus ada yang berposisi kalah dan menang. Dari situ kita tahu bahwa tujuannya adalah: bagaimana cara menyarangkan bola ke sarang musuh, tergantung posisi kita di mana.

Seperti kata Sartolo, “rakyat kita seperti bola saja.”

“Kok bola gimana?” Tanya Dumbis setelah sekian lama terduduk bengong.

“Ya bola. Ditendang ke sana kemari, kita dibuat bergerak oleh kaki-kaki ‘pemain’. Tapi sayang.. kita tak kunjung dan tak pernah dimasukkan ke gawang. Hanya digiring ke sana kemari saja.”

“Kenapa kok jadi bola? Kan bisa jadi pemain juga?” Jawab Dumbis.

“Karena sejak awal mentalitas kita dibentuk agar tunduk, agar nasibnya mudah bergantung. Ibarat bola yang diam, dan hanya bergerak jika ada dorongan dari luar, itulah kita sebenarnya. Gerak kita di lapangan bukanlah gerakan sejati, tapi sudah diacak, diatur oleh ‘pemain’. Sedangkan para pemain itu, mentalitasnya tak mau tunduk. Mereka ingin mengendalikan. Maka, bola adalah contoh satu instrumen yang sangat mudah digerakkan. Dengan tendangan ringan atau bahkan keras sekalipun. Kalau batu. Seandainya kita jadi batu, tak kuasa mereka menendang. Punggung kaki mereka akan remuk duluan kalau sampai berani menendang kita.”

“Itu artinya kita perlu jadi batu?” Dumbis makin penasaran.

“Kau benar,” Sartolo mantap menjawab. “Sesekali kita perlu jadi batu yang sukar ditendang. Bahkan jika ada berani menendang, biarlah luka menganga siap terpahat di kaki penendang. Masalahnya, kita senang jadi bola. Ditendang ke sana kemari, dipikirnya enak. Dipikirnya gerakan-gerakan ke sana kemari itu adalah progresivitas. Padahal, kalau jadi bola lalu tak punya kesempatan untuk masuk gawang, tentu saja itu sudah bukan fitrah bola lagi.”

“Nah, batu malah tak bisa ke mana-mana. Pun batu tak pernah bisa masuk ke gawang.”

“Sebab itu bukan fitrahnya. Fitrah batu adalah antheng, meneng, ajeg. Ia hanya bergerak jika memang ada tekanan besar yang perlu membuat dirinya bergerak. Adapun urusan masuk ke gawang atau tidak, harkatnya memang bukan ke sana. Ndak ada dalam sejarah ujug-ujug sebuah batu besar disundul ke gawang. Bisa remuk itu kepala pemain.” Jelas Sartolo.

“Jadi maksudmu kita jadi batu agar tak grusa-grusu, sebagaimana bola yang terlalu gegar dengan gerakan-gerakan ringan. Begitu?”

“Ya, memang harus begitu.”

Forum Tanya Jawab

0 Pengguna
* Mohon Jangan Spam link Disini. Semua Komentar akan ditinjau oleh Admin