Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Ditendang ke sana.
Ditendang
ke sini.
Digiring
ke sana.
Dilempar
masuk kemari.
Disundul
ke atas.
90 menit adalah fase normal sepak
bola. Jika kedua belah tim tak kunjung memasukkan bola, akan terjadi extra
time 15 menit kali dua. Jika skor masih sama saja, akan berujung pada adu
penalti. Di fase penalti itulah tak mungkin hasilnya imbang. Sebab harus ada
yang berposisi kalah dan menang. Dari situ kita tahu bahwa tujuannya adalah:
bagaimana cara menyarangkan bola ke sarang musuh, tergantung posisi kita di
mana.
Seperti kata Sartolo, “rakyat kita
seperti bola saja.”
“Kok bola gimana?” Tanya Dumbis
setelah sekian lama terduduk bengong.
“Ya bola. Ditendang ke sana kemari,
kita dibuat bergerak oleh kaki-kaki ‘pemain’. Tapi sayang.. kita tak kunjung
dan tak pernah dimasukkan ke gawang. Hanya digiring ke sana kemari saja.”
“Kenapa kok jadi bola? Kan bisa jadi
pemain juga?” Jawab Dumbis.
“Karena sejak awal mentalitas kita
dibentuk agar tunduk, agar nasibnya mudah bergantung. Ibarat bola yang diam,
dan hanya bergerak jika ada dorongan dari luar, itulah kita sebenarnya. Gerak
kita di lapangan bukanlah gerakan sejati, tapi sudah diacak, diatur oleh
‘pemain’. Sedangkan para pemain itu, mentalitasnya tak mau tunduk. Mereka ingin
mengendalikan. Maka, bola adalah contoh satu instrumen yang sangat mudah
digerakkan. Dengan tendangan ringan atau bahkan keras sekalipun. Kalau batu.
Seandainya kita jadi batu, tak kuasa mereka menendang. Punggung kaki mereka
akan remuk duluan kalau sampai berani menendang kita.”
“Itu artinya kita perlu jadi batu?”
Dumbis makin penasaran.
“Kau benar,” Sartolo mantap
menjawab. “Sesekali kita perlu jadi batu yang sukar ditendang. Bahkan jika ada
berani menendang, biarlah luka menganga siap terpahat di kaki penendang.
Masalahnya, kita senang jadi bola. Ditendang ke sana kemari, dipikirnya enak.
Dipikirnya gerakan-gerakan ke sana kemari itu adalah progresivitas. Padahal,
kalau jadi bola lalu tak punya kesempatan untuk masuk gawang, tentu saja itu
sudah bukan fitrah bola lagi.”
“Nah, batu malah tak bisa ke
mana-mana. Pun batu tak pernah bisa masuk ke gawang.”
“Sebab itu bukan fitrahnya. Fitrah
batu adalah antheng, meneng, ajeg. Ia hanya bergerak jika memang ada
tekanan besar yang perlu membuat dirinya bergerak. Adapun urusan masuk ke
gawang atau tidak, harkatnya memang bukan ke sana. Ndak ada dalam
sejarah ujug-ujug sebuah batu besar disundul ke gawang. Bisa remuk itu
kepala pemain.” Jelas Sartolo.
“Jadi maksudmu kita jadi batu agar
tak grusa-grusu, sebagaimana bola yang terlalu gegar dengan gerakan-gerakan
ringan. Begitu?”
“Ya, memang harus begitu.”
