Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 24 | Jabatan Itu Juga Ujian | Sudah berbusa-busa sekumpulan pemuda itu meneriakkan wacana-wacana untuk negara yang mereka cintai. Tap justru menemukan satu titik buntu perihal bagaimana cara mewujudkan itu semua. Tapi lagi-lagi. Jawabannya bisa ditemukan pada fitrah hidup itu sendiri. Bahwa seseorang tak harus menjadi penjual nasi goreng jika mengkritik nasi goreng. Seseorang tak harus jadi barista jika harus mengkritik racikan kopi yang dipesan. Pun seseorang tak perlu menggantikan posisi presiden jika perlu mengkritik presiden.
Logika yang salah selama ini adalah,
seolah siapapun yang memberi masukan pada yang diberi masukan, haru menjadi
orang untuk mengambil posisi itu. Misalnya kamu mengkritik pesebakbola yang
gagal mengeksekusi penalti, lalu kamu diharuskan mengganti posisi pemain itu:
kamu yang nendang. Bukan begitu. Sebagaimana obrolan Banim dengan Dumbis.
“Kalau kamu mengejek gorengan di
piring ini tidak enak, apakah kamu harus menggantikan posisi Mbok Sunarti untuk
membuatnya?” Tanya Banim.
“Ya enggak dong. Kan bukan tugasku.”
Jawab Dumbis.
“Lah, itu maksudnya. Segala riuh
rendah yang kita bicarakan ini adalah pilihan. Semacam prasmanan opsi untuk
mereka yang ingin membenahi pola pikir. Manusia ini punya posisi masing-masing,
yang mana titik dasar mereka adalah bicara pada aspek pengaruh. Orang yang
memiliki pengaruh, yang keputusannya berpotensi diikuti, yang pemikirannya akan
dipanuti, yang kebijakan dirinya akan diinspirasi—dirinya harus diarahkan pada
kondisi yang benar.” Jelas Banim.
“Wah, itu artinya tugas yang sangat
berat sekali. Bayangkan, kita manusia punya banyak keterbatasan, lalu dituntut
menjadi superhero untuk tugas yang bahkan mungkin, seorang pahlawan fiksi pun
tak sanggup melakukan itu semua. Kamu suruh Spiderman untuk menyelam di laut
seperti Aquaman misalnya, tak bakal sanggup. Oh, yaa... yaa..” Dumbis
mengamini.
“Oleh karena itu, kita ndak ingin
hal-hal yang muluk-muluk demikian. Yang kita inginkan sebenarnya adalah, di
saat kelaparan dan kesengsaraan di mana-mana, jangan pernah menampilkan visual
seolah ia cuma senang-senang saja di hadapan rakyat. Mereka perlu menampilkan
kesahajaan, kesederhanaan dalam pola hidup. Dan sejalan lurus dengan apa yang
diomongkan. Lidah memang mudah meleset. Tapi orang bijak punya kecakapan batin
untuk segera merevisinya. Tindakan revisial semacam itu akan membawa seseorang
pada tataran hidup yang ideal, yang tentram, dan senantiasa menaruh sikap
rendah hati untuk terus belajar.” Imbuh Banim.
Dumbis manggut-manggut mendengar
itu.
