Oleh : Akhmad Gunawan Wibisono
Lingkarkiri.or.id | Jagongan Rakyat 23 | Sentimen Recehan | “Di negara ini kalau ada orang yang vokal tentang kebijakan-kebijakan pemerintah, ujung-ujungnya ditanggapi dengan konyol. Kalau tidak berupa penyangkalan yang nirdata, biasanya berujung pasal-pasal, pemenjaraan, dan segenap cara-cara udik untuk membungkam fakta.” Banim menyerocos panjang.
“Huss.. jaga mulutmu, Nim. Di sini
banyak orang!” Cegah Kecut.
“Waduh, kamu ini, Nim. Hati-hati..”
Kemben masuk.
Situasi warung Mbok Sunarti memang
lagi ramai. Bisa saja ada intel yang tiba-tiba ngegep mereka hanya
karena celotehan yang terlampau keras bagi telinga pemerintah.
“Kan aku bicara fakta yang ada.
Itulah yang aku rasa dan lihat selama ini.” Banim membantah. Wajahnya
menampakkan ekspresi tanpa salah.
“Iya, tapi nanti dulu. Jangan
gegabah gitu. Ruang publik itu liar. Kamu bisa-bisa dijegal hanya karena
omongan. Ingat pesan-pesan bijak klasik, bahwa orang sering terpeleset sebab
lidahnya sendiri. Aku tak mau kamu berakhir seperti itu.” Kemben memberi saran.
Di tengah percakapan itu, tetiba
Sartolo membenarkan kata-kata Banim.
“Ya memang benar itu. Benar kata
Banim. Sampai hari ini negara kita, orang-orang kita masih berada pada
titik-titik sentimen-sentimen sepele. Jika ada kritik, masukan, bagi orang kuat
mental akan terbuka dengan lapang hati maupun pikirannya untuk mencerna. Bukan
langsung menuding antek asing, tidak nasionalis, tidak pro pemerintah. Bisa
dipastikan, bahwa mengkritik juga butuh energi yang tak sedikit. Mengerahkan
pikiran untuk mengerti celah apa yang ada itu bukan pekerjaan mudah. Maka
hendaknya, orang yang baik—apalagi pemimpin—harus siap menerima lapang dada.”
Ketus Sartolo.
“T-tapi, Tol—” Kecut hendak
menyahut. Tapi Sartolo terus melanjutkan kalimatnya.
“Masalahnya, orang-orang ini
dibayar. Mereka adalah pelayan. Kita yang bayar. 80% pajak kita itu masuk ke
negara loh. Rakyat diperas keringatnya sekadar untuk menghidupi badut negara!”
Banim dan Kecut malah melongo
mendengar ucapan Sartolo.
“Sentimen itu harusnya dengan
hal-hal yang besar dan penting. Ngapain juga dengan kritik-kritik? Kritik itu
bahasa perbaikan, ia bahasa untuk menyeimbangkan sistem. Tapi bukan jadi fokus
utama. Sentimen itu mbok ya sama negara lain. Ada yang berdaulat pangan
dan para petaninya diperhatikan. Ada korupsi, hukum berat dong. Adanya
kesejahteraan terhadap pendidikan dan kesehatan. Kalau negara kita belum bisa
melakukan, atau memaksimalkan hal demikian, harusnya itu yang jadi alasan untuk
sentimen.”
